Find and Follow Us

Minggu, 19 Januari 2020 | 12:45 WIB

Diterimakah Persaksian Seorang Anak Kecil?

Selasa, 14 Januari 2020 | 13:00 WIB
Diterimakah Persaksian Seorang Anak Kecil?
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

SESEORANG bertanya, "Jika didapati anak-anak di masjid banyak bermain-main dan mereka membuat orang-orang yang salat tidak konsentrasi dalam salat mereka, apakah boleh aku untuk berkata kepada salah seorang anak kecil untuk menoleh (melihat pelakunya) ketika salat dan memberi tahu kepada kami siapa yang bermain-main dalam salat, sehingga kami bisa memberi tahu wali anak-anak itu?"

Dalam hal ini, apakah diterima persaksian seorang anak kecil? Intinya, wajib untuk meneliti ulang apakah mungkin untuk menerima persaksian sebagian anak-anak berkenaan dengan (ulah perbuatan) anak-anak yang lain, karena sebagian ulama berpendapat:

"Tidak diterima persaksian sebagian anak-anak terhadap anak-anak yang lain." Sedang sebagian ulama yang lain berpendapat: "Diterima persaksian mereka selama mereka berada di tempat itu."

Contohnya: Salah seorang dari anak-anak itu dilukai, kemudian dia berkata kepada bapaknya: "Ini dia yang melukaiku." Kemudian anak (yang dituduh) itu mengingkari dan berkata: "Aku tidak melukainya." Namun kemudian ada dua anak lain menyaksikan bahwa memang dia yang melukai anaknya.

Sebagian ulama berpendapat: "Tidak diterima persaksian anak-anak." Sebagian yang lain berpendapat: "Jika mereka belum berpisah maka diterima, namun jika mereka telah berpisah maka tidak diterima." Karena kadang mereka didikte saja.

Bagaimanapun keadaannya, kami berpendapat agar engkau berbicara jika engkau seorang imam- dengan ucapan yang umum. Engkau mengatakan kepada jamaah masjid:

"Jazakumullah khoiron. Anakanak kalian jika mengganggu orang-orang yang salat dan mereka meremehkan masjid maka dosanya menjadi tanggungan kalian. Maka hendaknya setiap orang menjaga anaknya dan melatihnya dengan adab."

Dan memungkinkan juga dengan cara menunjuk salah seorang dari anak-anak itu yang bisa dipercaya untuk menjaga anak-anak itu, meskipun dia tidak salat, karena dia belum wajib untuk sholat.

Dan jangan dengan cara engkau mengatakan kepada anak itu: "Tolehlah (siapa pelakunya)! " Agar tidak ada sangkaan bahwa menoleh-noleh (dalam sholat) itu tidak apa-apa.

[Liqa al-Bab al-Maftuh: Pertemuan 40 ke No. 16, al-Maktabah asy-Syamilah/Abu Abdirrahman Muhammad Dahler]

Komentar

x