Find and Follow Us

Minggu, 19 Januari 2020 | 12:40 WIB

Hidup yang Resah dan Gelisah

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar | Selasa, 14 Januari 2020 | 01:11 WIB
Hidup yang Resah dan Gelisah
(Ilustrasi)
facebook twitter

APABILA di depan kita ada makanan enak serta gratis, dan di situ juga ada ular yang bersembunyi. Lalu, informasi manakah yang terpenting, tentang ular dan keberadaannya, atau tentang kelezatan makanan gratis itu?

Kalau hanya memikirkan nikmatnya makanan, kita bisa digigit ular dan makanannya tetap utuh. Maka, jalan terbaik adalah kita harus membereskan ularnya terlebih dahulu, baru makanannya bisa kita nikmati.

Atau, misalkan saudara sedang menempuh perjalanan sendirian. Ketika merasakan haus, tampak dan terdengar gemerincing sebuah mata air yang bening dan gratis pula. Namun jalan menujunya ditanami banyak duri.Tentunya, kita tidak akan Iangsung berlari sumringah, tetapi akan sangat berhati-hati agar tidak sampai terkena duri. Kita akan mencari tahu bagaimana agar duri-duri tersebut bisa dihindari.

Jadi, informasi terpenting yang harus dicari terlebih dulu adalah yang berbahaya. Begitu pula ibaratnya dalam hidup. Kita jangan dulu fokus pada hal-hal yang menyenangkan, tetapi yang paling penting adalah apa yang membahayakan kita.

Lalu, apa atau siapakah yang paling membahayakan kita dalam hidup ini?Tidak sesuatu dan seorang pun yang paling berbahaya, kecuali diri kita sendiri. Hidup kita yang resah dan gelisah penyebabnya adalah diri sendiri.

Seperti antara dicopet dan mencopet. Kalau dicopet, kita shock ataupun sedih hanya sepanjang mengurus pembuatan ulang KTP dan kartu-kartu yang lain, serta menambah giat bekerja untuk mengumpulkan kembali uang yang diambil si copet. Lain halnya dengan si pencopet. Dia akan tersiksa sepanjang waktu. Bahkan, kalau sampai ketahuan, yang malu bukan hanya si pencopet, tetapi juga orang tua, saudara, istri, anak, teman teman, tetangga dan semuanya kecewa, malu dan marah. Bahkan, cap "copet" bisa terus terpajang walaupun dia sudah meninggal. Keluarga dan anak kita bisa dikucilkan, atau merasa rendah diri dalam pergaulannya.

Bahkan misalnya, kalau kita harus berangkat ke medan perang, yang paling membahayakan kita bukanlah musuh, tetapi diri kita sendiri.Tiada yang akan menghalangi kita menjadi syuhada selain dosa-dosa kita sendiri. Contohnya, salah niat. Berperang karena ingin dianggap hebat, pemberani, Pahlawan, dan sebagainya.

Artinya, keresahan dan kegelisahan kita adalah buah dari perbuatan-perbuatan buruk kita sendiri, buah dari dosa kita sendiri. Para bandar narkoba dan koruptor itu mustahil bahagia. Sekalipun mereka merasa senang, karena belum dipenjara misalnya, kesenangannya itu semu. Tidak pernah ada kebahagiaan yang diperoleh dengan niat dan cara yang salah atau batil.

Dosa adalah petaka. Ibaratnya seperti jarum pentul, paku payung, tusuk sate, bambu runcing, dan seterusnya, barang-barang tajam itu akan mengikuti besarnya dosa yang diperbuat. Jarum pentul maupun bambu runcing itu bagaimana ditaruh sendiri di tempat yang persis bakal diinjak. Dosa yang dilakukan benar-benar diri sendiri yang akan memikul kepedihannya.

Maka, sangat Iayak bagi kita untuk mulai mencari tahu tentang informasi tentang apa yang paling penting dan paling berbahaya dalam hidup. Bertanyalah kepada diri tentang dosa-dosa apa saja yang sudah diperbuat, mulai yang terjauh di masa lalu sampai yang terakhir kita Iakukan untuk kemudian kita tobati.

Apabila ada yang terlupakan, segeralah memohon kepada Allah Ta'ala agar diingatkan. Kita meminta kepadaNya agar diberi kemampuan bertobat. Allah pasti tidak

lupa. Dia selalu mencatat dan sangat mudah bagi-Nya Untuk membukakan catatan tersebut kepada kita.

Kita mohon ampunan Allah Ta'ala agar petaka-petaka tadi tidak lagi mengikuti; agar hilang semua keresahan dan kegelisahan hidup. Minum pil penenang atau narkoba sebanyak apapun, sungguh takkan pernah bisa menjadi pelipur resah dan gelisah yang bercokol di hati kita. Sebab, tiada pemilik, pemberi, dan sumber ketenangan dan kebahagiaan yang abadi selain Allah Ta'ala.

"Tiada yang paling membahayakan diri kita selain keburukan-keburukan diri yang tidak segera ditobati." [*]

Komentar

x