Find and Follow Us

Minggu, 19 Januari 2020 | 12:45 WIB

Bekerjalah dengan Profesional

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar | Jumat, 10 Januari 2020 | 01:11 WIB
Bekerjalah dengan Profesional
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

HAL yang kita ikhtiarkan di Daarut Tauhiid adalah bagaimana memakmurkan tanah wakaf yang sudah diamanahkan Allah Taala. Jaga dan ikhlaslah melakukan apa yang bisa kita lakukan. Contohnya tentang kebersihan. Kita menjaga kebersihan bukan agar orang kagum atau mendapat sertifikat internasional. Tapi kita membersihkannya karena bersih itulah yang disukai Allah dan karena ini tanah wakaf titipan Allah.

Begitu pula dengan karyawan perusahaan di pesantren. Jangan risaukan tentang gaji atau pemasukan, Allah yang mendatangkan semua itu. Jangan takut oleh persaingan karena saat ini banyak perusahaan. Allah Ta'ala tahu persis dan menjamin rezeki kita. Bekerjalah dengan hati yang tulus, ibadah yang bagus, hidup dan Ikhtiar yang lurus dan serius, juga bertobat terus menerus. Dalam ketenangan dan kenyamanan itu, kita pikirkan saja baik-baik bagaimana agar perusahaan kita disukai Allah dan bagaimana mengurus tanah wakaf yang sudah diamanahkanNya,

Maka, kalau kita mau bekerja atau berdagang, pikirkanlah bagaimana agar apa yang akan kita lakukan itu tidak dibenci oleh Allah Ta'ala. Misalnya, kita tidak berbohong dan tidak boleh bersumpah palsu karena itu tidak disukai Allah. Kita harus ramah bukan karena ketidakramahan kita nanti bisa dilaporkan kepada atasan atau kita khawatir orang tidak jadi membeli. Tetapi, Rasulullah SAW bersabda, "Allah merahmati seseorang yang ramah dalam menjual, membeli dan menagih." (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

Kita tidak boleh dengki melihat kiri kanan. Selain Allah melarang kita dengki, tetangga sebelah itu juga ciptaan dan hamba Allah.Timbangan kita pun harus bagus karena Allah Ta'ala berfirman, "Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! Orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang Iain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi." (QS. al-Muthaffifin [83]:1-3).

Demikian misalkan ada orang datang menawar dagangan, maupun produk perusahaan kita, tapi yang jadi dibelinya adalah dagangan tetangga sebelah. Kita tidak boleh kotor hati karena Allah tidak menyukainya.

Kalau itu memang bukan rezeki kita, walau dia sudah sumringah mencoba-coba barang dagangan kita, tetapi membelinya nanti tetap di tempat lain.

Kita tidak perlu ramah supaya dibeli, baik supaya laku, dan jujur Supaya orang percaya. Kita melakukan semua itu hanya untuk satu tujuan, yaitu agar Allah suka, Saudaraku, coba siapakah yang lebih dekat dengan kita, pembeli atau Allah? Uang yang di dompet pembeli siapa yang mengatur keluarnya? Walau ada orang yang tidak ingin membeli, tetapi kalau Allah Taala sudah memberi rezeki pada kita, uang yang ada di dompetnya pun akan menjadi milik kita.

Hidup ini akan lebih ringan dan nikmat kalau kita fokus dengan apa yang disukai atau yang diperintahkan Allah. kita tidak akan mudah sakit hati, dengki dan jengkel, baik dalam bekerja maupun berdagang. Perkara nanti ada orang yang memuji dan menghargai kejujuran, kebaikan, keramahan, atau akhlak kita, itu urusan Allah Zat Yang Maha Menggerakkan.

Konsep bekerja dan berdagang semacam ini tampak sangat profesional. Kita tidak perlu sibuk memikirkan pembeli karena itu urusan Allah yang membolak-balik hati. Kita cukup mematuhi perintah-Nya dalam bekerja dan dagang. Selebihnya terserah Allah. Apakah nanti atasan kita menjadi senang. Lalu, menyerahkan anaknya untuk dididik supaya bisa bekerja seperti saudara, karena dia lelaki juga. Sesuka Allah saja.

Ini berbeda dengan konsep bisnis yang akal-akalan. seperti,"pembeli adalah raja."Mengapa pembeli menjadi raja? Yang biasa membeli pun tidak akan jauh dari orang-orang sejenis kita, mungkin tetangga, teman, orang se-kompleks, atau orang se-kota. Kita baik kepada pembeli bukan agar dia mau datang Iagi. Kita baik kepada pembeli karena itu yang diperintahkan Allah.Titik!

Kita pun pasti pernah mendengar yang namanya "service excelent". Katanya, service excelent itu dengan memakai rok mini. Bagaimana dagangan kita laku, orang mau mendekat saja menjadi malu, kecuali yang pikirannya mesum. Kita bukan tidak boleh service excellent, tetapi service kita itu harus yang menghasilkan amal saleh atau minimal tidak mendatangkan dosa.

Jadi, bekerja dan berdaganglah dengan profesional. Dalam semua ikhtiar itu, kita berurusan cukup dengan Allah, Zat Yang Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui isi hati, yang sangat detail sekali catatanNya. Profesionalnya kita adalah hanya memikirkan dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah Taala, Pemilik Iangit dan bumi. "Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." (QS. aI-Jumuah [62]:10).

"Allah Taala tahu persis apa kebutuhan kita. Dia pun telah menjamin seluruh rezeki kita. Maka, bekerjalah dengan hati yang tulus, ibadah yang bagus, hidup dan ikhtiar yang lurus dan serius, juga bertobat terus menerus." [*]

Komentar

x