Find and Follow Us

Rabu, 22 Januari 2020 | 10:05 WIB

Menepis Fitnah Keji tentang Sahabat Rasulullah

Senin, 16 Desember 2019 | 14:00 WIB
Menepis Fitnah Keji tentang Sahabat Rasulullah
facebook twitter

ABU Musa radhiallahu anhu adalah figur teladan untuk orang berilmu yang hendak mengamalkan ilmunya. Ia banyak berpuasa. Suatu ketika ia mengatakan, "Semoga dahaga di hari yang terik ini menjadi Pintu Rayyan untuk kita di hari kiamat." (Rajul Hawla ar-Rasul, Hal: 442). Dan Abu Musa wafat dalam keadaan berpuasa di hari yang panas.

Banyak yang merendahkan kemampuan kepemimpinan (leadership) Abu Musa karena peristiwa tahkim di zaman Ali bin Abu Thalib. Para orientalis menemukan momen yang tepat untuk memfitnah dan memojokkan sahabat-sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Lewat peristiwa tersebut, dengan riwayat-riwayat palsu dan dusta, mereka berkata apapun tentang Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, Abdullah bin Abbas, Amr bin al-Ash, dan Abu Musa al-Asyari. Sayangnya, ucapan mereka dikutip oleh sebagian kaum muslimin. Para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam difitnah memperebutkan dunia (kekuasaan), padahal mereka telah talak tiga dengan kehidupan dunia.

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana bisa kisah-kisah yang diriwayatkan oleh ulama ahli sejarah, semisal ath-Thabari, Ibnu al-Atsir, Ibnu Saad, dan Ibnul Jauzi, itu palsu? Jawabnya adalah ath-Thabari, Ibnu al-Atsir, Ibnu Saad, dan Ibnul Jauzi tidak mensyaratkan apa yang mereka riwayatkan adalah berita yang shahih. Oleh karena itu, mereka meriwayatkan kejadian-kejadian sejarah bersama dengan nama-nama periwayatnya. Tujuannya agar pembaca bisa menilai kualitas berita tersebut berdasarkan nama-nama periwayat.

Muhammad Zahid al-Kautsary al-Hanafi rahimahullah membuat tolok ukur bagaimana menilai kualitas berita dari para sejarawan tersebut. Beliau mengatakan, "Kualitas berita yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (ath-Thabari) adalah kualitas sanadnya." Artinya, jika sanadnya lemah, beritanya pun juga lemah. Cukup bagi kita berita-berita shahih dan masyhur tentang pengakuan kemampuan kepemimpinan Abu Musa al-Asyari oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Umar dan Utsman radhiallahu anhuma.

Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat, Abu Musa kembali ke Madinah. Sebelumnya, ia diamanati Rasulullah atas wilayah Yaman. Di zaman Umar bin al-Khattab, Abu Musa diangkat menjadi gubernur Bashrah. Penduduk Bashrah yang terkenal pembangkang pun tidak memberontak kepada Abu Musa. Kemudian Utsman bin Affan radhiallahu anhu menjadikannya gubernur Kufah. Al-Aswad bin Yazid mengatakan, "Aku tidak pernah melihat dari kalangan sahabat Rasulullah yang lebih berilmu dari Ali dan Abu Musa." (Siyar Aalam an-Nubala, Jilid II, Hal: 388).

Setelah mengetahui ini, bagaimana mungkin kita menuduh seorang yang ditunjuk oleh Rasulullah, Umar, dan Utsman sebagai seorang yang lemah? Berkali-kali pemimpin yang luar biasa itu menunjuk Abu Musa sebagai wakil mereka. Bahkan Umar memberinya tugas khusus sebagai hakim. Umar mengakui keadilan dan kecerdasannya dalam memutuskan perkara.

Komentar

x