Find and Follow Us

Rabu, 22 Januari 2020 | 10:00 WIB

Anak Saya tak Boleh Masuk Organisasi Radikal!

Senin, 16 Desember 2019 | 09:00 WIB
Anak Saya tak Boleh Masuk Organisasi Radikal!
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

APA jadinya jika saya memperkenalkan diri, lalu saya bilang jika saya Islam Radikal? Mungkin jika tampang saya tidak terlalu serius, Anda akan menganggap saya berguyon saja. Namun apa jadinya jika raut muka saya serius? Anda mungkin menganggap bisa saja seorang saya terlibat dalam peristiwa rangkaian bom buku.

Atau mungkin Anda berpendapat saya rela berdemo di gedung DPR sampai mati di ujung bayonet. Bisa jadi Anda menerka tokoh idola saya tak jauh-jauh dari Osama bin Ladenatau versi agak mendingnya, Sayyid Quthb.

Ini merupakan persepsi yang (hampir) sudah disepakati, ketika radikal menjadi sebuah kosakata yang seolah "penuh onak dan duri". Radikal diidentifikasikan sebagai sesuatu yang bagi orang umum ialah suatu paham yang menyeramkan. Hingga akhirnya, tersembul pemikiran, "Anak saya tidak boleh masuk organisasi radikal! Nanti dipenjara! Nanti keluarga saya diteror!" Begitu mungkin template pemikiran orangtua masa kini. Pada umumnya tentu, tidak semua. Bisa jadi ada orangtua yang beneran radikal atau malah memang nyeleneh, ingin sok-sok radikal. Heheh.

Jika ditelusur dari asal-usul bahasa, "radikal" tidak seseram yang orang umum kira. Bagi yang pernah belajar biologi, kosakata "radikula" sudah barang tentu tak asing lagi. Radikula merupakan nama ilmiah dari "akar" tumbuhan. Radikal berasal dari sebuah kata latin yaitu radix (akar). Radikal, berarti "mengakar", begitu dapat saya simpulkan.

Dalam kuliah ilmu filsafat yang saya ikuti, filsafat mengharuskan para pembelajarnya untuk memiliki empat sifat wajib dalam berpikir. Radikalberjejer dengan rasional, sistematis, dan kritis termasuk dalam gugusan empat sifat wajib tersebut. Jadi, jika Anda berangan menjadi seorang filsuf sejati, Anda harus radikal.

Orang radikal dapat diartikan sebagai orang yang memahami sesuatunya secara utuh, mendalam, dan sampai ke akar permasalahan. Tentu saja orang-orang ini tidak hanya pengebom bersindikat aliran jihadis sajayang melaksanakan aksinya (yang katanya) beraqidahkan Quran dan sunah. Atau sang dokter revolusionis berjanggut, Che Guavara.

Jika merujuk pada pengertian pada kalimat pertama paragraf sebelumnya, mungkin penyanyi favorit saya, Jack Johnson, termasuk radikalis. Coba Anda simak lirik beberapa lagunya yang mendalam, kontemplatif, dan menyentuh akar nalar. Setelah simak liriknya, simak penampilan penyanyi Hawaii ini. Radikalnya belah (sebelah) mana? Malah cenderung santai khas surfer Hawaii bukan?

Terlepas dari benar atau tidaknya pemikiran Jack Johnson, saya mengundang Anda untuk menjadi seorang radikal. Menjadi radikal, artinya Anda harus siap-siap menanggalkan subjektivitas sebisa mungkin. Menjadi radikal, berarti Anda harus tidak percaya mentah-mentah apa yang diberitakan media massa tentang bom buku, NII, skandal Century, takhayul masa lampau, dan lain sebagainya.

Come on, brother. Kita sama-sama punya otak, punya nalar yang dapat diasah. Mulailah dengan pertanyaan, mengapa media massa begitu santer memberitakan bom buku tiada henti? Atas dasar apa zionis begitu kejam? Atas dasar apa Kartosoewirdjo berkehendak sekali mendirikan negara Islam? Apa yang membuat kaum pria jemaah Salafi memakai celana di atas mata kaki? Dengan bertanya, mudah-mudahan mendorong kita untuk giat menguber-uber jawaban "teka-teki" tersebut.

Akhir kata, closing statement yang sekiranya dapat saya utarakan: "Mari, belajar tidak asal memvonis, kalau belum tahu dasar serta akar permasalahannya!" . Sudah sepatutnya manusia mukmin tidak seperti yang terdapat pada ayat 39 surat Yunus berikut,

"Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya". Wallahualam. [Tristia Riskawati/SalmanITB.com]

Komentar

x