Find and Follow Us

Jumat, 24 Januari 2020 | 13:28 WIB

Madu di Tangan Kananmu, Racun di Tangan Kirimu

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Jumat, 13 Desember 2019 | 00:07 WIB
Madu di Tangan Kananmu, Racun di Tangan Kirimu
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

JUDUL di atas adalah potongan bait lagu yang sangat terkenal saat saya kecil dulu yang judulnya, kalau tidak salah, adalah "Madu Dan Racun." Dua kata ini selalu digunakan secara bersamaan untuk menjelaskan sifat yang bertentangan antara satu dengan lainnya. Yang madu adalah menyehatkan dan menghidupkan, sementara yang racun adalah membuat sakit dan mati peminumnya.

Suatu saat ada baiknya kalau kita membaca pekerjaan tawon atau lebah madu dengan teliti untuk mengetahui rahasia mengapa ia bisa mengeluarkan madu manis penuh manfaat untuk kesehatan dan kehidupan, serta diabadikan dalam al-Qur'an. Ambillah 'ibrah (pelajaran berharga) darinya untuk diterapkan dalam keseharian kita agar bisa mengeluarkan "madu kehidupan" yang bernilai guna bagi masyarakat.

Salah satu pekerjaan tawon atau lebah madu adalah pilihan makanan yang dikonsumsinya, ia cari dari bunga-bunga terbaik dari pohon-pohon pilihan. Tak banyak sari bunga yang diambilnya melainkan hanya seperlunya lalu dibiarkannya bunga-bunga itu tetap mekar sempurna tanpa ada sisi yang dirusaknya. Memilih makanan terbaik, mengambil secukupnya saja, dan tanpa merusak apa yang ada ternyata merupakan bagian penyebab keluarnya madu.

Semua kita yang berpikiran waras pasti ingin memberikan madu, bukan racun, kepada masyarakat. Bahkan kita semua ingin anak kita "semanis madu" bukan "sepahit racun." Makanlah makanan yang halal, makankan makanan yang baik. Makanan yang halal dan baik adalah makanan pilihan, makan terbaik, yang akan menjadi sumber tenaga untuk kemaslahatan hidup.

Ambil secukupnya saja karena hidup kita di dunia ini tak abadi dan jangan merusak sumber makanan karena masih ada anak cucu yang akan mewarisi. Bagaimana bisa kita memberikan madu jika semuanya dimonopoli sendiri, ditumpuk sendiri untuk diri sendiri, kemudian merusak semuanya agar yang lain tak mendapatkan apa-apa. Manusia macam terakhir ini adalah jenis racun dan atau penghasil racun yang tak layak didekati apalagi dipilih menjadi pemimpin. Salam, AIM. [*]

Komentar

x