Find and Follow Us

Rabu, 22 Januari 2020 | 10:05 WIB

Menyesaikan Masalah dengan Caci Maki dan Umpatan?

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Kamis, 12 Desember 2019 | 00:04 WIB
Menyesaikan Masalah dengan Caci Maki dan Umpatan?
facebook twitter

BARU saja selesai menghadiri acara sarasehan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Hampir semua perwakilan agama dan aliran agama hadir, demikian pula tokoh organisasi kemasyarakatan san pemuda. Saya menyampaikan materi Potensi dan Tantangan Toleransi Beragama di NKRI.

Semua sepakat bahwa kini toleransi kita sedang berada dalam masalah, yakni terlukanya kerukunan dan kedamaian oleh duri caci maki dan kebencian yang ditaburkan lewat beragam media massa dan media sosial. Toleransi yang sangat terluka bukanlah toleransi sosial yang kaitannya hanyalah hubungan sosial kemasyarakatan murni, melainkan toleransi politik yang berisikan pengakuan akan hak orang lain untuk eksis dan tampil dalam panggung "kekuasaan." Gara-gara perebutan panggung politik dan kekuasaan, wajah toleransi tercabik.

Saat saya pancing kasus-kasus terhangat tentang caci maki dan umpatan atas segala hal yang berbeda, semua peserta sepakat bahwa caci maki dan umpatan adalah gaya yang tidak dewasa dalam menghadapi masalah. Masyarakat yang telah tumbuh dewasa akan lebih terbuka mendiskusikan perbedaan sebagai jalan dialog menemukan kebenaran yang lebih kuat dan maslahah.

Kebencian, caci maki dan umpatan tak akan pernah menjadi sebab seseorang menjadi berubah lebih baik secara sempurna. Jalan halus penuh cinta dan kasih sayanglah yang akan mampu mengubah wajah pola hubungan semakin indah, sejuk dan damai.

Semua sepakat bahwa ada beberapa pemicu lahirnya sikap tak dewasa menghadapi masalah: pertama adalah keterbatasan ilmu dan pengetahuan sehingga menganggap kebenaran hanyalah apa yang diketahuinya sendiri; kedua, kesenjangan ekonomi dan tak meratanya keadilan; ketiga adalah faktor keterpurukan kondisi finansial di tengah kompetisi kehidupan yang semakin menggila.

Ada banyak diskusi yang tak bisa dilaporkan dalam tulisan pendek ini. Yang paling penting adalah berhentilah mencaci dan mulailah mengerti bahwa perbedaan itu akan selalu ada sepanjang masa. Buku rujukan tidak sesedikit jumlah yang kita pernah baca. Buku yang belum pernah kita baca jumahnya adalah jauh lebih banyak. Mari kita semakin giat belajar dan mengaji. Salam dari santri yang masih mondok, AIM. [*]

Komentar

x