Find and Follow Us

Senin, 16 Desember 2019 | 15:31 WIB

Pergilah, Larilah dan Naiklah

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Selasa, 3 Desember 2019 | 00:05 WIB
Pergilah, Larilah dan Naiklah
(Ilustrasi)
facebook twitter

SAAT duduk menunggu adzan subuh, seorang kakek menghampiri saya dan duduk di sebelah kanan saya. Beliau memandang ke langit-langit masjid lalu tersenyum dan menoleh pada saya. Beliau berkata setengah berbisik:

"Kalau dunia ini terasa sempit, pikiranmu terasa sempit, dadamu terasa sempit, bercita-cita pun sulit dan bahkan berharap pun tak lagi memiliki keberanian, maka yakinilah bahwa dirimu terlalu akrab dengan bumi sehingga engkau dijepitnya dengan sesuatu yang disebut urusan dunia."

Saya diam saja sambil berupaya memaknai kalamnya yang dilafalkan dalam bahasa Arab namun aksennya agak unik, asing ditelinga saya. Diulanginya kalimat itu dua kali, lalu beliau tersenyum lagi dan berbisik lagi:

"Jika begitu keadaanmu, maka pergilah jauhi bumi, larilah, larilah menuju Tuhanmu, dan naiklah, naiklah ke langit, jangan terlalu kerasan di bumi." Beliau tertawa renyah dan mengelus kepala saya. Beliau berdiri, menggenggam tangan saya, dan pergi, lalu menghilang entah kemana. Sisa harum tangannya masih melekat di tangan saya, harum parfum yang tak biasa.

Saya renungkan kalimatnya, terasa menyimpan makna mendalam, yakni bahwa selama kita terlalu dekat dengan bumi (al-ardl) dan terlalu jauh dengan langit (as-sama'), maka pastilah semua terasa sempit. Bumi ini terlalu ramai, terlalu padat penduduk, terlalu banyak yang berlomba, terlalu banyak yang berebut. Langit masih luas, kosong dan sepi.

Lalu bagaimana cara naik ke langit? Sayang saya belum sempat bertanya namun beliau sudah pergi. Namun masih tersisa harapan bisa bertemu lagi. Surban kecilnya warna hijau berhiaskan benang kuning emas tertinggal di sebelah saya. Entah sengaja atau tidak, namun saya tak berani menyentuhnya, karena takut beliau tak berkenan. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x