Find and Follow Us

Senin, 16 Desember 2019 | 15:38 WIB

Naik Haji Jalan Kaki atau Berkendaraan?

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Sabtu, 30 November 2019 | 00:03 WIB
Naik Haji Jalan Kaki atau Berkendaraan?
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

PERTANYAAN tersebut di atas sejatinya tidak berangkat dari fakta bahwa ada orang yang ngotot ingin hidup sesuai dengan teks atau nash al-Qur'an dan hidup meniru plek model lama, melainkan dari fakta bahwa fasilitas modern kini telah digunakan dalam prosesi haji ataupun umroh.

Ada fasilitas scooter (sepeda motor listrik) untuk thawaf dan sa'i, ada pula kereta api di wilayah masy'aril haram. Lalu ada pertanyaan serta ulasan dari Syekh Nadirsyah Hosen Australia "bolehkah kalau dalam thawaf misalnya menggunakan teknologi lantai bergerak putar sehingga jamaahnya cukup diam berdiri dan lantainya saja yang berputar?"

Saya tak hendak menjawab langsung pertanyaan itu, yang sesungguhnya juga sudah diulas oleh sang penanya sendiri. Saya ingin kita merenungkan ayat haji ini dengan seksama. Ayatnya berbunyi begini: "Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh," (QS. Al-Hajj 22: Ayat 27)

Perhatikan bahwa ayatnya adalah mendahulukan jalan kaki ketimbang berkendara. Berkendaranya juga tolong dicermati, yaitu unta yang kurus. Yang manakah yang akan Anda pilih? Apakah mau ikut dhahir teks yang mendahulukan jalan kaki? Ah, sepertinya tidaklah mungkin dan tidaklah kuat. Lalu bagaimana para ulama membahas hal ini?

Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari juz 4 membahas hal ini dengan apik. Kata beliau, Ishaq bin Rahawaih mengatakan bahwa jalan kaki lebih utama karena ada capek. Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa berkendara lebih utama karena Rasulullah berhaji dengan berkendara. Demikian pula disebutkan hal yang sama dalam kitab-kitab tafsir. Bagaimana pandangan Ibnu Hajar sang penulis Fathul Bari itu? Beliau menyimpulkan bahwa pilihan keutamaan itu berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan keadaan manusianya.

Ibnu Hajar ternyata hebat ya, fleksibel dan substansialis, bukan tekstualis. Segala sesuatu itu diukur dari sisi kemaslahatannya, bukan semata-mata atas dasar bunyi teks. Di sinilah perlunya belajar Maqasid al-Shari'ah.

Adakah yang masih mau bertanya lebih baik mana naik pesawat yang kurus dengan yang gemuk? Lebih baik mana antara naik pesawat Airbus dan Boeing? Lebih baik mana antar yang pesawat transit dengan yang langsung mengingat faktor lelah juga diperhatikan oleh sebagian ulama? Cerdaslah dalam beragama. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x