Find and Follow Us

Senin, 16 Desember 2019 | 15:41 WIB

Gemar Berterima Kasih kepada Manusia

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar | Senin, 25 November 2019 | 01:11 WIB
Gemar Berterima Kasih kepada Manusia
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

SAUDARAKU, gemar berterima kasih kepada manusia yang telah menjadi jalan kebaikan bagi kita adalah salah satu kunci menjadi ahli syukur. Dalam hidup kita pasti banyak keterlibatan orang lain untuk memenuhi berbagai urusan.

Kita lahir ke dunia, tumbuh dan berkembang adalah karena keterlibatan tangan orangtua kita. Kita bisa berpakaian adalah karena banyak keterlibatan tangan orang lain mulai dari petani kapas, tukang tenun, penjahit, pedagang. Kita pun bisa makan setiap hari karena keterlibatan tangan orang lain, mulai dari petani, nelayan, pedagang hingga yang masak.

Masya Allah! Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita terampil berterima kasih kepada orang lain yang telah turut andil dalam membantu memenuhi kebutuhan kita. Allah senang kepada hamba-hamba-Nya yang pandai berterima kasih. Allah SWT berfirman, "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman [31]: 14)

Demikian juga Rasulullah mengajarkan berterima kasih kepada manusia adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah." (HR. Ahmad)

Dalam hadist lain Rasulullah bersabda, "Orang yang paling bersyukur kepada Allah adalah mereka yang paling bersyukur kepada manusia." (HR. Baihaqi). Ungkapan rasa terima kasih kepada sesama manusia itu banyak caranya. Bisa dengan mengungkapan dengan ucapan lisan. Bisa juga dengan mendoakan atau dengan cara membalas kebaikannya.

Biasakanlah untuk selalu berusaha membalas kebaikan orang lain, meskipun tentu orang yang membantu kita itu tidak berharap pamrih atau balas jasa. Tetapi, membalas kebaikan adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah dan agar kita tidak berutangbudi. Jangan sampai ada dalam hati kita kesenangan karena terus-menerus dibantu orang lain, sedangkan kita tidak melakukan hal yang sama terhadap mereka. Syukurilah bantuan yang datang kepada kita dengan cara membantu meringankan keperluan orang lain pula.

Ada dua hal yang mesti kita ingat. Pertama, kebaikan orang lain terhadap kita. Dan kedua, keburukan kita kepada orang lain. Namun, ada dua hal juga yang mesti kita lupakan. Pertama, kebaikan kita kepada orang lain. Dan kedua, keburukan orang lain terhadap kita. Mengapa?

Karena sesungguhnya yang membahayakan diri kita bukanlah perbuatan orang lain terhadap kita. Demikian juga yang memberikan kebaikan kepada kita bukanlah perbuatan orang lain. Melainkan yang mendatangkan kebaikan dan yang membahayakan diri kita tiada lain adalah perbuatan diri kita sendiri.

Sehingga dua hal yang penting adalah mengingat kebaikan orang lain kepada kita dan mengingat keburukan kita kepada orang lain. Dengan mengingat keburukan kita kepada orang lain, maka kita senantiasa ingat untuk bertobat kepada Allah dan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Dan kita pun termotivasi untuk terus memperbaiki diri.

Sedangkan mengingat kebaikan orang lain terhadap kita, akan membuat kita senantiasa bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada orang tersebut. Kita pun akan termotivasi untuk memberi kebaikan kepadanya, meskipun ia tidak pernah mengharapkannya.

Rasulullah. bersabda, "Barangsiapa yang telah berbuat kebaikan kepada kalian, hendaklah kalian membalasnya. Jika kalian tidak mampu membalasnya, maka berdoalah untuknya, hingga kalian tahu bahwa kalian telah bersyukur. Allah adalah Dzat Yang Maha Tahu Berterima kasih dan sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur." (HR. Thabrani)

Semakin senang mengenang, mengingat kebaikan dan jasa seseorang kepada kita, niscaya Allah akan menanamkan rasa nyaman di hati kita. Kemudian, hadirlah rasa ingin untuk membalas kebaikan tersebut.

Namun, sebaliknya bila kita lebih fokus kepada kekurangan dan kesalahan, niscaya Allah akan tanamkan rasa gelisah, jengkel. Sikap kufur nikmat akan berbuah perbuatan zalim.

Berterima kasih atau membalas kebaikan orang lain adalah wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT. Dan, sikap tersebut membuktikan keberanian dan kerendahan hati kita untuk mengakui kebaikan orang lain. Hal ini menjadikan jalan ringannya tali silaturahim untuk terjalin dengan orang lain sehingga semakin luaslah pergaulan, semakin bertambah teman, semakin banyak sahabat. Artinya, semakin luas jaringan dan semakin banyak jalan rezeki Allah SWT.

Di sinilah kita menemukan bahwa berterima kasih, membalas budi, adalah wujud rasa syukur, sedangkan syukur kepada Allah itu mengundang rezeki lain untuk dekat dengan kita. Namun, kita berterima kasih dan membalas budi bukanlah karena mengharapkan pamrih atau mencari dunia, melainkan karena Allah menyukai hamba-Nya yang bersyukur.

Rasulullah. adalah teladan kita, beliau adalah sosok yang paling pandai berterima kasih kepada sesama manusia yang telah menjadi jalan kebaikan untuknya.

Suatu ketika, Abdullah Ibn Abbas yang masih kanak-kanak menyiapkan air wudhu untuk Rasulullah saw. Rasulullah menanggapinya dengan perasaan senang. Kemudian, Rasulullah berterima kasih sembari mengusap kepala Abdullah Ibnu Abbas dan membalas kebaikannya dengan mendoakan, "Ya Allah, faqihkanlah ia dalam ilmu agama, dan ajarilah ia tafsir kitab-Mu."

Allah pun mengabulkan doa Rasulullah tersebut, sehingga Abdulah ibn Abbas seiring tumbuh kembangnya menjadi remaja dan dewasa, ia tumbuh menjadi orang yang faqih dalam ilmu tafsir al-Quran juga ilmu-ilmu lain seperti ilmu fikih, bahasa Arab, ilmu waris dan menguasai syair-syair. Masya Allah!

Saudaraku, mari kita membiasakan diri untuk berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita. Dan, mari kita melatih diri untuk membalas kebaikan orang lain dengan sesuatu yang lebih baik lagi. Inilah ciri dari orang yang ahli syukur, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. [*]

Komentar

Embed Widget
x