Find and Follow Us

Senin, 16 Desember 2019 | 15:35 WIB

Teladan Kebaikan Orang Baik Menuju Kaya Bahagia

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Jumat, 15 November 2019 | 00:05 WIB
Teladan Kebaikan Orang Baik Menuju Kaya Bahagia
(Ilustrasi)
facebook twitter

BERDERMA atau bershadaqah sepertinya saat ini menjadi amalan yang lagi naik daun setelah diviralkan lewat media sosial tentang foto-foto kegiatan bersedekah. Ada yang mempopulerkan shadaqah subuh, ada juga yang mengadvokasi shadaqah Jum'at, pun ada yang mensosialisasikan shadaqah air dan makanan saat shalat Jum'at. Semuanya adalah baik. Semoga segenap amal diterima oleh Allah.

Yang ingin saya share kali ini adalah kisah yang ceritakan dalam Ihya' Ulumiddin tentang rahasia zakat. Ada contoh teladan bagaimana cara beshadaqah dengan tingkat yang optimum. Semua kita tahu dari ayat al-Qur'an bahwa kebaikan yang sesungguhnya adalah saat kita bisa mempersembahkan apa yang kita cintai. Sekarang, perhatikanlah, betapa kita sering bershadaqah barang atau sesuatu yang sudah tidak kita butuhkan atau sudah tidak kita sukai. Tak apa, tapi tak bernilai kebaikan yang maksimal.

Adalah Abdullah bin Umar yang dikisahkan oleh Imam al-Ghazali, penulis Ihya' itu. Abdullah bin Umar gemar sekali bershadaqah gula. Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab: "Saya mendengar firman Allah bahwa kalian tidak akan menggapai kebaikan kecuali kalian menginfakkan apa yang kalian sukai. Saya sangat suka pada gula. Karenanya saya shadaqah gula."

Nah, pertanyaannya adalah apa yang sangat kita sukai? Berkenankah kita menshadaqahkannya? Pasti untuk menjawabnya, apa pertarungan dahsyat dalam pikiran dan hati kita. Semoga bisa meneladani Abdlullah bin Umar yang luar biasa itu. Tentu bukan meniru gulanya, melainkan YANG DISUKAI.

Sebagian kita biasa menshadaqahkan sesuatu yang ada kekurangannya, ada cacatnya. Misalnya adalah baju yang sedikit ada robekan atau salah jahit, makanan yang kurang enak, atau lainnya. Dalam kitab Ihya' itu juga disebutkan kisah teladan dari Imam Nakha'i yang senantiasa menshadaqahkan apa yang paling baik dan paling sempurna. Beliau berkata: "Aku sangat tidak suka jika ada suatu aib dalam sesuatu yang aku persembahkan kepada Allah SWT." Luar biasa, bukan?

Apa yang diberikannya atas nama Allah pastilah yang paling bagus dan sempurna. Bagaimanakah dengan kita? Mampukah kita meneladani? Mungkin kelas kita kini adalah masih kelas belajar shadaqah, belum kelas belajar memperbanyak shadaqah, apalagi kelas belajar memaksimalkan pahala shadaqah.

Sahabat dan saudaraku, mari kita berupaya naik kelas. Kata sebagian ulama, bagi orang yang terbuka mata batinnya, butuhnya kita akan pahala shadaqah adalah jauh lebih besar dari butuhnya orang yang kita shadaqahi akan shadaqah kita. Ulama yang lain berkata: "Tak banyak yang yakin bahwa JALAN PALING MUDAH untuk menjadi KAYA BAHAGIA adalah dengan cara mengeluarkan apa yang kita miliki karena Allah SWT. Mari kita yakini dan laksanakan. Semoga mampu. Salam, AIM@Makkah Mukaramah. [*]

Komentar

Embed Widget
x