Find and Follow Us

Senin, 9 Desember 2019 | 10:26 WIB

'Jamu Jati' Sebagai Jamu Kebahagiaan

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Rabu, 13 November 2019 | 00:04 WIB
'Jamu Jati' Sebagai Jamu Kebahagiaan
(Ilustrasi)
facebook twitter

TERMASUK penyebab paling utama dari tibanya derita adalah ketidakmampuan kita menjaga mulut kita. Rasulullah bersabda: "Selamatnya manusia itu ada pada pemeliharaannya akan mulutnya." Menjaga mulut secara umum diterjemahkan dengan menjaga omongan kita, jangan melontarkan kata atau kalimat yang membuat orang lain terluka hati.

Dalam makna yang lebih luas, bukan hanya menjaga kata dan kalimat melainkan juga menjaga gerakan bibir kita agar juga tidak membuat orang lain tersinggung. Gerakan bibir yang saya maksud adalah senyuman dan cibiran.

Apakah semua senyuman itu pasti berimplikasi positif? Tidak. Itu tergantung niat dan nuansa hati yang melatarbelakangi senyuman itu. Seindah apapun senyuman, saat tak didasarkan pada ketulusan, pasti berasa hambar, tak menyentuh hati. Kesimpulan sebaliknya adalah berlaku.

Penyebab lainnya yang juga sangat besar perannya dalam menentukan bahagia dan deritanya kita adalah hati kita. Hati yang terlatih untuk menerima takdir apa adanya adalah hati yang paling mungkin untuk bahagia. Tak usahlah kita berbangga diri dengan pujian lisan manusia dan merasa sedih terhina dengan penghinaan orang lain.

Kata para guru: "Kata-kata orang tentangmu janganlah engkau pikul di pundakmu, pundakmu akan retak. Cukup letakkan di bawah kakimu untuk kau tata menjadi tembok yang bisa membuatmu semakin meninggi." Kalimat ini membutuhkan syarah. Kapan-kapan kita berdiskusi. Jagalah hati untuk tetap bahagia tanpa bergantung pada kata-kata orang lain.

Lebih dari itu, menjaga hati memiliki makna menjaga dari niat yang jelek dan prasangka jelek. Setiap niat jelek pastilah akan menjadi penyebab jeleknya nuansa atau suasana hati kita. Karena itulah maka Imam Ahmad ibn Hambal mengingatkan puteranya: "Selalulah berniat baik, maka kebaikan akan selalu datang kepadamu."

Kesimpulan uraian di atas adalah jagalah mulut (jamu) dan jagalah hati (jati), maka kita akan bahagia. Sederahana sekali jamunya, bukan? Selamat meracik. Slaam, AIM@Undangan Maulid Nabi di rumah Ustadz Ahmad Busthami Mekah. [*]

Komentar

Embed Widget
x