Find and Follow Us

Jumat, 6 Desember 2019 | 01:24 WIB

Benarkah Cium Tangan Ulama & Orangtua Berlebihan?

Jumat, 8 November 2019 | 11:00 WIB
Benarkah Cium Tangan Ulama & Orangtua Berlebihan?
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

BEBERAPA waktu lalu heboh mengenai hukum mencium tangan kepada para ulama maupun orang tua. Bahkan sampai dikatakan bahwa mencium tangan itu adalah hal yang berlebih-lebihan dalam menghormati. Benarkah demikian?

Hukum mencium tangan ulama, guru dan kerabat yang lebih tua adalah sunah dan dianjurkan sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat pada baginda nabi berdasarkan hadis dengan sanad yang sahih.

"Dan disunahkan mencium tangan orang yang masih hidup karena kebaikannya dan sejenisnya yang tergolong kebaikan-kebaikan yang bersifat diniyyah (agama), kealimannya, kemuliaannya sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat pada baginda nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Abu Daud dan lainnya dengan sanad hadits yang sahih.

Dan dimakruhkan mencium tangan seseorang karena kekayaannya atau lainnya yang bersifat duniawi seperti lantaran butuh dan hajatnya pada orang yang memiliki harta dunia berdasarkan hadits "Barangsiapa merendahkan hati pada orang kaya karena kekayaannya hilanglah 2/3 agamanya". [Asnaa al-Mathaalib III/114]

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunannya (juz II halaman 523, hadits nomor 524,) dan Imam Thabrani dalam al-Mujam al-Ausathnya (juz I halaman 424, hadits nomor 425, maktabah syamilah), Sanad dan matannya sebagai berikut (al-Mujam al-Ausath) :

"Telah menceritakan kepada kami, Ahmad bin Khulaid, berkata, telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Isa ath-Thabba, berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman al-Anaq, dari Ummu Aban bin al-Wazi bin al-Zari, dari kakeknya, al-Zari dan beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata: Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kami, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi shallallaahu alaihi wasallam".

Atas dasar hadits ini, para ulama mensunahkan mencium tangan para habaib, para kiai, para ustadz dan para guru serta orang-orang yang kita hormati.

Imam Nawawi berkata dalam kitab Raudhoh juz X halaman 36, cetakan al-Maktab al -Islami tahun 1412 H -1991 M berkata:

"Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan dan kesalehan orangnya, atau karena ilmunya, atau mulianya, atau karena dia menjaga perkara keagamaan, maka hukumnya MUSTAHAB (disunnahkan). Dan apabila karena dunianya, kekayaannya dan kepangkatannya dan sebagainya, maka hukumnya sangat MAKRUH".

As-Samhudi dalam Wafa al-Wafa mengutip dari al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqolani, bahwa beliau berkata:

"Al-Hafizh Ibn Hajar mengatakan- bahwa sebagian ulama mengambil dalil dari disyariatkannya mencium hajar aswad, kebolehan mencium setiap yang berhak untuk di agungkan; baik manusia atau lainnya, -dalil- tentang mencium tangan manusia telah dibahas dalam bab Adab, sedangkan tentang mencium selain manusia, telah dinukil dari Ahmad ibn Hanbal bahwa beliau ditanya tentang mencium mimbar Rasulullah dan kuburan Rasulullah, lalu beliau membolehkannya, walaupun sebagian pengikutnya meragukan kebenaran nukilan dari Ahmad ini."

"Dinukil pula dari Ibn Abi ash-Shaif al-Yamani, -salah seorang ulama madzhab Syafii di Makkah-, tentang kebolehan mencium Mushaf, buku-buku hadis dan makam orang saleh. Kemudian pula Ath-Thayyib an-Nasyiri menukil dari al-Muhibb ath-Thabari bahwa boleh mencium kuburan dan menyentuhnya, dan dia berkata: Ini adalah amaliah para ulama saleh". Wallohu Alam. [Fimadani]

Komentar

Embed Widget
x