Find and Follow Us

Jumat, 15 November 2019 | 22:29 WIB

Bukan Kisah Karangan

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Jumat, 8 November 2019 | 00:03 WIB
Bukan Kisah Karangan
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

GARA-GARA gelombang informasi masuk kepada masyarakat yang sebenarnya "masih" dalam posisi gelombang pertanian, ada semacam kegalauan psikologis yang mengantarkan pada kekacauan budaya. Masyarakat petani desa seakan dipaksa mengikuti masyarakat industri kota melalui televisi dan teknologi informasi seperti handphone dan internet.

Kosa kata seperti miskol, signal, loading, download dan sejenisnya sering sekali kita dengar di pedesaan, bahkan di warung-warung persawahan. Menariknya adalah bahwa kadang mereka salah eja, salah ucap atau salah pelafalan. Itulah yang membuat kita sering menemukan lucu alami di desa. Saya sering senyum-senyum sendiri saat salah seorang desa berkata: "Di sini sudah ada YUWAIFI" untuk menyebut wifi yang biasa dilafalkan waifay.

Kisah kali ini yang akan saya bagi adalah kisah orang Madura yang sedang berwisata bersama. Namanya adalah Pak SINOT, panggilan akrab dari nama panjangnya Ahmad Zainuddin. Beliau adalah tetangga dekat Mat Kelor yang viral dan fenomenal itu. Apa yang lucu dari Pak Sinot ini?

Tak lain dan tak bukan adalah suara nyaringnya yang mengajak teman-temannya ke luar ruangan untuk melihat keindahan matahari yang akan tenggelam di balik apitan dua gunung. Apanya yang lucu? Beliau berkata: "Ayo keluar, kita saksikan SAMSAT, pasti indah, kita kameran."

Ini dia bukan sedang melawak, tapi karena tak biasa membaca tulisan SUNSET melainkan cuma mendengar-dengat saja. Anda saja bilang "matahari terbenam" maka tak akan ada masalah. Tapi di sinilah terlahir lucu. Tak ada Madura, Indonesia kekurangan selera humor.

Ada yang ingin melihat SAMSAT besok hati? Hahaa, itu pasti ada urusan dengan pajak kendaraan bermotor. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x