Find and Follow Us

Jumat, 15 November 2019 | 23:18 WIB

Ngaji Bersama Santri di Masjid UM Malang

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Jumat, 25 Oktober 2019 | 00:04 WIB
Ngaji Bersama Santri di Masjid UM Malang
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

HARI santri semakin menemukan lahan subur di masyarakat Indonesia. Tak hanya pesantren yang menyambutnya dengan meriah, lembaga pendidikan Islam dan umum pun menyambutnya dengan gempita. Baik yang alumni pesantren maupun yang bukan alumni pesantren berbaur menjadi satu dalam perhelatan hari santri ini. Universitas Negeri Malang bukanlah sebuah pengecualian, civitas akademika bersepakat mengadakannya setiap tahun.

Acara hari santri di UM Malang ini dikemas dalam acara Kajian Santri Nusantara yang dimulai dengan penampilan seni hadrah, sambutan rektor dan kajian. Tak semua yang hadir memakai sarung, banyak juga yang bercelana. Ini menandakan bahwa santri tak selalu identik dengan sarung. Hukumnya adalah boleh bagi santri untuk bercelana, walau dalam fakta sarung tetap lebih diminati karena lebih elatis dan fleksibel, lebih luas, lugas dan leluasa.

Bisakah mengidentifikasi santri dari sisi kemampuan membaca al-Qur'an? Betapapun al-Qur'an adalah penting dan harus selalu ada dalam kehidupan santri, namun identifikasi ini akan gagal memahami orang-orang dengan semangat beragama yang tinggi dan semangat berkhidmat yang baik namun belum lancar membaca al-Qur'an. Masuk apakah mereka? Lalu saya simpulkan saja dari sekian banyak pendapat bahwa santri adalah setiap orang yang berkeyakinan bahwa agama adalah penting demi menggapai hidup damai dan bahagia.

Dalam acara itu saya sampaikan bahwa pandangan Sam Haris dalam bukunya The Death of Faith bahwa agama dan akal adalah tak bisa menyatu adalah pandangan yang salah. Haris berkeyakinan bahwa orang yang beragama pasti logikanya mandek. Siapa yang ingin hidup dengan logika yang sehat, maka buanglah agama, kata Sam Haris. Pernyataan ini tentu terbantahkan dengan hadirnya para santri Nusantara yang banyak menjadi akademisi dengan pencapaian prestasi akademik yang luar biasa. Ternyata akal dan agama adalah bisa bertemu menjadi satu.

Salut kepada ananda Dr Taufik, sang manusia unik dengan banyak karya terindeks scopus, dan ananda Hendra, Ph.D, manusia lab dengan banyak kejutan hak paten, yang telah mempelopori hari santri di UM Malang dan mengudang saya untuk berbicara di hadapan para santri UM Malang. Salut bisa hidup di kampus tanpa iri hati dan dengki sesama civitas akademika, saling mendukung untuk maju sesama para dosen dan karyawan. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x