Find and Follow Us

Rabu, 13 November 2019 | 09:10 WIB

Kekeliruan Sebagian Muslim yang Halalkan Anjing

Selasa, 22 Oktober 2019 | 12:00 WIB
Kekeliruan Sebagian Muslim yang Halalkan Anjing
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

MAKANAN yang diharamkan bukan sebatas yang disebutkan dalam Al Quran saja. Sebagian kaum muslimin ada yang memahaminya seperti itu. Sehingga akibatnya mereka nyatakan bahwa anjing itu halal karena tidak diharamkan dalam Al Quran.

Dalil mereka adalah ayat berikut ini, "Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah." (QS. Al Anam: 145).

Berdasarkan ayat ini ada dua kesimpulan dari mereka. Pertama, hukum asal setiap makanan itu halal karena ayat ini jelas menyatakan, "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya". Kedua, yang dikecualikan dari pernyataan halal sebelumnya artinya menjadi haram adalah empat macam yaitu bangkai, darah yang mengalir, daging babi, dan binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Jadi ada empat saja yang terlarang. Dalam ayat ini tidak disebutkan anjing, maka asalnya anjing itu halal.

Baiklah, apakah pemahaman semacam ini dibenarkan? Itu yang insya Allah akan kita bahas. Intinya, kami akan memaparkan bahwa hadits nabi seharusnya jadi pegangan dan jangan hanya memperhatikan Al Quran Al Karim saja. Karena hadits Nabawi itu berfungsi sebagai penjelas dan pelengkap Al Quran, maka hukum yang ditetapkan dalam hadits pun harus diambil. Lebih lanjut mari kita simak pembahasan berikut ini.

Jika ada yang menanyakan, "Apakah makanan atau hewan yang diharamkan hanya sebatas yang disebutkan dalam Al Quran?" Jawabannya, tidak hanya terbatas dalam Al Quran saja. Karena kita pun diperintahkan untuk mentaati perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Jadi apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam larang tetap kita jauhi. Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

"Wajib bagi kita untuk mengikuti Al Quran, begitu pula wajib bagi kita mengikuti petunjuk Rasul. Mengikuti salah satu dari keduanya (Al Quran dan hadits Rasul), berarti mengikuti yang lainnya. Karena Rasul shallallahu alaihi wa sallam bertugas untuk menyampaikan isi Al Quran. Dalam Al Quran sendiri terdapat perintah untuk menaati Rasul. Perlu juga dipahami bahwa Al Quran dan petunjuk Rasul sama sekali tidak saling bertentangan sebagaimana halnya isi Al Quran tidak saling bertentangan antara ayat satu dan ayat lainnya."

[baca lanjutan]

Komentar

Embed Widget
x