Find and Follow Us

Rabu, 13 November 2019 | 10:11 WIB

Sahihkah Hadis Umat Islam Pecah Jadi 73 Golongan?

Selasa, 22 Oktober 2019 | 08:00 WIB
Sahihkah Hadis Umat Islam Pecah Jadi 73 Golongan?
(Ilustrasi)
facebook twitter

HADIS tentang perpecahan umat Islam yang menjadi 73 golongan cukup banyak, di antaranya adalah hadis berikut ini:

Dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, nasrani terpecah menjadi 71 atau 72 golongan. Dan umatku terpecah menjadi 73 golongan. (HR Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, Ibu Hibban dan Al-Hakim)

Kedudukan Hadits dari Segi Sanad

Al-Imam At-Tirmizi menyebutkan dalam kitabnya bahwa kedudukan hadis ini adalah hasan sahih. Julukan ini agaknya agak berbeda dengan umumnya para perawi hadis lainnya. Menurut sebagian ulama, kalau Al-Imam At-Tirmizy mengatakan suatu hadis berkekuatan hasan sahih, maka ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, hadits itu punya 2 sanad. Sanad pertama hasan dan sanad kedua shahih. Kemungkinan kedua, hadis itu punya 1 sanad saja, oleh sebagian ulama dikatakan hasan dan oleh ulama lain disebut shahih.

Al-Hafidz Ibnu Hajar, ulama besar di bidang hadis yang telah menulis kitab penjelasan dari Shahih Bukhari mengatakan bawa hadis tentang 73 golongan ini berstatus hasan. Sedangkan Al-Imam Ibu Taimiyah mengatakan bahwa kedudukan hadis ini sahih - karena banyaknya jalur periwayatannya. Al-Imam Ibu Taimiyah bahkan mengatakannya sahih, karena banyaknya jalur periwayatannya.

Perbedaan Penilaian

Namun seperti biasanya di dalam dunia kritik hadis, ada banyak ulama dengan beragam versinya. Sebagian dari ulama itu menilai bahwa hadis ini bermasalah. Ibnu Hazm mengatakan bahwa hadis ini tidak sahih. Di dalam kitab Tahzibul Kamal, Al-Hafidz Ibnu hajar menyebukan bahwa hadis ini punya masalah pada salah satu perawinya. Dia adalah Muhamad bin Amru bin Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi. Orang ini dikatakan sebagai rajulun mutakallam alaihi min qibali hifdzhihi. Artinya adalah orang yang masih diperdebatkan dalam hafalannya. (Lihat: Tahzibul Kamal oleh Al-Mazi dan Tahzibut Tahzib oleh Ibnu Hajar). Imam Muslim hanya mensahihkan Muhammad bin Amru apabila dengan kesertaaan perawi lainnya. Bukan kalau dia sendirian.

Hadis Kedua

Di samping hadis di atas, ada hadis lain lagi yang bisa kita bedah.

Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 millah (agama), sementara umatku berpecah menjadi 73 millah (agama). Semuanya di dalam neraka, kecuali satu millah." Sahabat bertanya, "Millah apa itu?" Beliau menjawab, "Yang aku berada di atasnya dan juga para sahabatku." (HR At-Tirimizi, Abu Daud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi dan Al-Hakim)

Al-Hukmu 'alal Hadits

Al-Imam at-Tirmizi mengatakan bahwa status hukum hadis ini hasan. Sedangkan Al-Hakim mengatakan bahwa hadis ini dapat dijadikan hujjah. Al-Imam Zainuddin Al-Iraqi (w. 809 H) dan Al-Imam Jalaluddin Assuyuthi mengatakan bahwa hadis kedua ini termasuk hadis mutawatir. Al-'Ajluni memasukkan hadis kedua ini dalam kitabnya, Kasyful Khafa' wa Muilul Ilbas. Kitab ini merupakan kitab yang berisi hadis yang populer di tengah masyarakat.

Yang Tidak Sahih dan Dikritik Para Ulama

Namun tidak semua bagian hadits itu sahih, ada penggalan kalimat yang masih dipermasalahkan oleh para ulama. Potongan kalimat itu adalah: "semuanya di neraka kecuali satu golongan, aku dan sahabatku." Ibnu Hazm dengan tegas mengatakan bahwa tambahan kalimat itu adalah hadis palsu, bukan bagian dari sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Hal senada dikatakan oleh Al-Imam Asy-Syaukani ketika mengutip pandangan Ibnu Katsir. Beliau mengatakan bahwa tambahan kalimat, "semuanya di neraka kecuali satu kelompok" telah didaifkan oleh banyak ulama muhadditsin.

Ulama besar abad ini, Dr Yusuf Al-Qaradawi juga ikut berkomentar dengan potongan hadis ini. Beliau mengatakan bahwa seandainya tambahan kalimat ini memang sahih, tidak ada ketetapan bahwa perpecahan itu harus terus menerus terjadi selama-lamanya.

Kesimpulan

Kalau pun ada benar dari umat Islam yang sesat karena menyempal dan masuk neraka, maka hadis itu pun juga tidak memastikan bahwa yang masuk neraka itu akan kekal selamanya di dalam neraka. Sebab hadis itu tetap menyebut mereka sebagai 'ummatku'. Hal itu berarti bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tetap menganggap mereka bagian dari umatnya dan agamanya tetap Islam. Tidak divonis oleh hadis itu sebagai orang kafir yang kekal di dalam neraka.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc]

Komentar

Embed Widget
x