Find and Follow Us

Senin, 18 November 2019 | 15:47 WIB

Jika Banyak Memabukkan, Sedikitpun Tetap Haram

Minggu, 20 Oktober 2019 | 16:00 WIB
Jika Banyak Memabukkan, Sedikitpun Tetap Haram
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

DARI definisi tulisan sebelumnya, setiap yang mengacaukan/menutup akal atau menghilangkan kesadaran termasuk khomr. Hal ini berdasarkan perkataan Umar bin Al Khottob, "Khomr adalah segala sesuatu yang dapat menutupi (mengacaukan) akal."

Oleh karena itu, yang juga termasuk khomr adalah narkotik, ganja, heroin, morfin, ekstasi dan segala macam zat adiktif yang dapat menutup akal, membuat sakau dan tidak sadarkan diri. Narkotik dan semacamnya tadi dihukumi haram berdasarkan kesepakatan para ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya, "Apakah narkotik (atau semacamnya) boleh dikonsumsi karena ada sebagian orang yang membolehkan untuk mengkonsumsinya?"

Beliau rahimahullah menjawab, "Mengkonsumsi narkotik semacam ini adalah haram. Zat semacam itu adalah sejelek-jelek makanan, baik dikonsumsi sedikit ataupun banyak. Kebanyakan zat yang memabukkan dari zat semacam itu adalah haram berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Barangsiapa yang menganggapnya halal, maka sungguh dia telah kafir dan harus dimintai pertaubatannya. Jika tidak, maka dia harus dibunuh karena dianggap kafir murtad."

Perhatian: Meminum Sedikit Khomr Tetap Haram. Jika sesuatu dalam keadaan banyak sudah memabukkan, maka meminum sedikit pun dinilai haram. Inilah pendapat mayoritas ulama. Mayoritas ulama Syafiiyyah yang berpendapat bahwa disebut khomr jika berasal dari perasan kurma saja, mereka tidak menyelisihi pendapat jumhur dalam point ini.

Dasar dari pendapat ini adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, "Sesuatu yang apabila banyaknya memabukkan, maka meminum sedikitnya dinilai haram."

Apabila khomr yang dalam keadaan banyak sudah membuat mabuk dan mengacaukan akal sehingga menghilangkan kesadaran, maka jika khomr tersebut dikonsumsi dalam jumlah sedikit tetap dinilai haram. Namun yang jadi patokan mabuk atau tidaknya di sini adalah bukan orang yang punya kebiasaan minum minuman keras, tetapi orang yang belum terbiasa. Karena jika orang yang jadi patokan adalah orang yang sudah terbiasa minum minuman keras, maka dalam jumlah banyak pun boleh jadi ia belum teler.

Ada sebagian orang yang keliru dalam memahami hadits di atas. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, "Mereka menyangka bahwa makna hadits tersebut adalah jika sedikit khomr tercampur dengan minuman selain khomr, maka minuman tersebut menjadi haram. Ini bukanlah makna dari hadits di atas. Namun makna hadits yang sebenarnya adalah jika sesuatu diminum dalam jumlah banyak sudah memabukkan, maka kalau diminum dalam jumlah sedikit tetap dinilai haram."

Yang dimaksud Syaikh Ibnu Utsaimin pemahaman yang keliru, kami deskripsikan sebagai berikut. Jika air segentong kemasukan miras sesendok maka air segentongnya, ada yang menganggapnya haram. Ini pemahaman keliru dalam memahami hadits "Sesuatu yang apabila banyaknya memabukkan, maka meminum sedikitnya dinilai haram."

Namun yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah jika ada miras diminum 500 mL memabukkan, maka meminum miras tersebut sebanyak 1 sendok tetap dinilai haram meskipun orang yang bersangkutan belum mabuk jika hanya minum sebanyak itu. [rumaysho]

Komentar

Embed Widget
x