Find and Follow Us

Selasa, 15 Oktober 2019 | 01:19 WIB

Tradisi Lama yang Kini Jarang Ditradisikan Kembali

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Kamis, 10 Oktober 2019 | 00:03 WIB
Tradisi Lama yang Kini Jarang Ditradisikan Kembali
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

KHALIFAH dinasti Abbasiyah yang bernama Harun al-Rasyid sangat terkenal sekali. Ada banyak kisah tentang beliau dalam kaitannya dengan kegiatan politik dan kegiatan sosialnya. Tak bisa dipungkiri bahwa hubungannya dengan beberapa kisah Abu Nawas (Abu Nuwa) turut serta membuatnya melegenda dalam sejarah. Namun, tulisan singkat saya saat ini bukanlah tentang beliau, melainkan tentang putera beliau yang bernama Amin dan Makmun.

Amin dan Makmun berguru kepada syaikh yang sama bernama Imam al-Kasa'i. Bagaimanakah kira-kira gaya belajar kedua putera khalifah (kepala negara) ini? Mari kita mencoba menebak dengan melihat fakta murid-murid jaman kini dalam hal perlakuannya kepada guru.

Anak yang semenjak kecil dimanja dan diyakinkan bahwa semuanya bisa diatur dengan uang serta diyakinkan bahwa dirinya adalah bagian kelompok elite atau "the haves" biasanya berpotensi meremehkan pelajaran dan bahkan meremehkan gurunya. Gurunyapun biasanya sulit berikap tegas karena berbagai alasan personal.

Ternyata, setiap usai belajar kepada sang guru, yakni Imam al-Kasa'i, kedua putera kepala negara ini berlomba cepat-cepatan untuk mengambilkan dan memasangkan sepatu/sandal gurunya itu. Sungguh akan menjadi berita viral jaman kini andai anak presiden, gubernur, dan pejabat tinggi lainnya memiliki sikap hormat kepada gurunya seperti yang lakukan oleh Amin dan Makmun itu.

Pertanyaannya adalah mengapa Amin dan Makmun Sang Pangeran ini memiliki akhlak yang mulia dalam memperlakukan gurunya? Pertama adalah karena orang tuanya memang memiliki sikap menghargai dan mengagungkan nilai ilmu dan orang berilmu.

Baca saja kisah Khalifah Harun al-Rasyid dengan para ulama. Begitu besar pengaruh sikap orang tua pada pembentukan kepribadian anak. Jawaban kedua adalah karena gurunya memiliki ketegasan diri yang baik, tegas dalam menentukan posisi diri dan tegas menyampaikan apa yang harus disampaikan sesuai dengan ilmu yang dimilikinya.

Ternyata berebut mengatur dan menghaturkan sandal guru kepada sang guru adalah tradisi yang sejak lama berlaku, bahkan dalam lingkungan keluarga kerajaan. Lalu, bagaimanakah kini? Bagaimakah sikap kita kepada guru kita, sementara kita bukan anak seorang kepala negara? Perlukan tradisi seperti ini diviralkan agar menjadi tradisi kembali?

Teringatlah saya pada sebuah statemen di dalam kitab "Al-Fawa'id al-Mukhtar" seperti ini: " Mengambil berkah dari dua sandal kekasih Allah adalah termasuk amalan yang utama, karena kedua sandal itu telah membawa seluruh tubuh orang pilihan itu." Berlebih-lebihankah? Bagi yang mengatakan iya, tolong tuliskan kitab tandingan, jangan hanya berani ngamuk lewat medsos. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x