Find and Follow Us

Selasa, 15 Oktober 2019 | 01:37 WIB

Engkau Bisa Mati, Amalmu Tak Mati-mati

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Selasa, 8 Oktober 2019 | 00:08 WIB
Engkau Bisa Mati, Amalmu Tak Mati-mati
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

DALAM kuliah subuh di masjid perumahan elit Surabaya saya sampaikan kalimat hikmah bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang dirinya sudah meninggal dunia namun amal kebaikannya tak pernah mati. Sebaliknya, sejelek-jeleknya manusia adalah mereka yang sudah meninggal dunia namun perbuatan jahatnya tidak mati-mati.

Ada banyak ulama yang angka usianya tak tinggi alias wafat kala belum terlalu tua, namun sampai kini karya dan pemikirannya tetap abadi bermanfaat bagi manusia. Sebut saja sebagai contoh adalah Imam al-Ghazali, imam Tajuddin as-Subki dan Imam an-Nawawi. (Catatan: Imam Mawardi semoga dan insyaAllah panjang umur). Karya serta pemikiran mereka sampai kini mengalir dari satu majelis pengajian ke majelis yang lain. Ada juga banyak manusia yang berumur panjang sekali, namun saat wafat maka mati pula segalanya karena tak punya amal apa-apa.

Amal perbuatan itu adalah energi kehidupan. Tanpa energi berupa amal maka kehidupan tak akan punya makna. Energi kehidupan itu bisa berupa kebaikan (energi positif) dan bisa berupa kejahatan (energi negatif). Menurut ilmu fisika dasar yang masih saya ingat, energi itu adalah kekal, tak pernah mati dan musnah, walau ia bisa berubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Dalam ilmu fisika, seingat saya, ini disebut dengan teori kekekalan energi. Jumlah energi dalam sebuah sistem tertutup tidak akan pernah berubah, ia akan tetap sama. Nah, teori fisika ini sesuai sekali dengan statemen di atas.

Pertanyaannya kini adalah "amal perbuatan apakah yang telah kita kekalkan dan akan kemalkan?" Dalam bahasa ringannya adalah shadaqah jariyah apa yang telah kita persiapkan untuk terus mengalir walau kita telah meninggal kelak?

Orang cerdas bukan orang fokus hanya untuk pemenuhan kebutuhannya saat hidup di dunia ini, melainkan orang yang memperaiapkan diri untuk kehidupan pasca kematiannya. Hidup setelah kematian adalah hidup yang lebih lama dan abadi. Cerdaslah berhitung untuk hidup kita, beramal baiklah. Salam, AIM, Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*]

Komentar

Embed Widget
x