Find and Follow Us

Selasa, 15 Oktober 2019 | 01:56 WIB

Jangan Remehkan, Pukulan Baliknya Bisa Mematikan

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Senin, 7 Oktober 2019 | 00:04 WIB
Jangan Remehkan, Pukulan Baliknya Bisa Mematikan
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

ZAMAN dahulu, ketika kendaraan bermesin belum dibuat, kuda dan onta adalah kendaraan terbaik para pedagang Arab untuk membawa dagangan atau belanjaan mereka. Dua hewan ini luar biasa sekali perannya dan menjadi piaraan yang sangat favorit. Dua hewan ini menjadi indikator kekayaan seseorang. Semakin banyak dimiliki, semakin kayalah pemiliknya. Enaknya binatang ini adalah bebas galau dari naik turunnya harga minyak dunia.

Seorang ibu (janda) yang suaminya baru setahun meninggal dunia terpaksa berbelanja dan berdagang sendiri demi melanjutkan jalan ekonomi keluarganya. Suatu hari dia membawa serta empat kudanya untuk membawa dagangannya. Pemandangan yang lumayan aneh memang pada saat ini. Dua pemuda cerdas mengolok-oloknya: "Wahai ibunya kuda, apa kabar?" Ibu ini dengan tenang dan senyum menjawab: "Baik sekali wahai anak-anakku." Kaget betul pemuda cerdas itu dengan jawaban cerdas si ibu. Jangan menganggap bodoh orang lain, bisa jadi pikiran simpelnya lebih dahsyat dari yang diduga.

Apa yang dialami pemuda cerdas tersebut di atas juga dialami para menteri jaman dulu, jaman yang di dalamnya hidup seorang syekh yang terkenal polos dan lugu bernama Syekh Juha. Ke mana-mana sang syekh selalu pergi dengan keledainya. Para menteri itu sepakat mengolok-oloknya sambil tertawa: "Syekh, kami tak begitu mengenalmu. Kami lebih mengenal kudamu." Syekh Juha menjawab: "Terimakasih. Tak akan mengenal keledai saya dengan baik kecuali sesama binatang sejenisnya. Begitu menurut kaidah yang disepakati orang-orang waras." Para menteripun kaget dan malu.

Ada pelajaran berharga dari kisah di atas. Jangan memandang sebelah mata akan orang lain. Ingatlah bahwa mata kita ada dua, gunakan kedua-duanya. Jangan biasa memperolok dan menghina orang lain, karena kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Lebih dari itu, hina saat ini sangat mungkin mulia saat nanti.

Sepulang Jum'atan di masjid, Mat Kelor disapa sinis oleh tetangganya yang terkenal iri hati dan dengki dengan kesuksesan Mat Kelor. Dia mengoloknya didepan banyak jamaah: Hai Haji Mat Kelor yang bodoh tapi sok pintar. Apa kabar?" Mat Kelor menjawab dengan santai dan senyum: "Baik wahai orang pandai yang selalu bertindak bodoh." Mat Kelor lalu pergi beranjak pulang sambil memutar-mutar biji tasbih kawkanya. Jamaah tertawa atas jawaban cerdas mematikan Mat Kelor. Salam senyum pagi, AIM, Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*]

Komentar

Embed Widget
x