Find and Follow Us

Selasa, 15 Oktober 2019 | 00:48 WIB

Yakini bahwa Semua Pasti Memiliki Akhir

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Kamis, 3 Oktober 2019 | 00:03 WIB
Yakini bahwa Semua Pasti Memiliki Akhir
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

PENYEBAB utama mengapa seseorang itu sombong dan pongah adalah karena dia tak tahu atau tak yakin bahwa semua yang dibanggakannya pasti berakhir di suatu waktu kelak. Penyebab utama mengapa seseorang tak sabar menjalani ujian hidup adalah juga karena dia tak tahu atau tak yakin bahwa semua sedih derita yang dijalaninya pasti suatu saat akan berakhir. Yakinilah bahwa semuanya pasti punya akhir. Malaikat maut pun, yang bertugas mencabut nyawa, pada waktunya kelak akan menjumpai maut.

Senikmat-nikmatnya makan, seseorang pasti tak mungkin akan makan terus tanpa henti. Ada batas di mana tubuhnya akan menolak dimasuki kenikmatan. Selapar-laparnya orang berpuasa pasti akan berhenti berpuasa pada saat berbuka tiba, yakni saat adzan maghrib berkuandang. Kata Mbah saya saat saya berpuasa masa kecil dulu:"Payakin adzan maghrib daggi' past dateng Cong, mal ta' nyorot ambu apoasa maskya lapar." (Yakinkan dirimu bahwa adzan maghrib pasti datang nanti sore, biar kau tak mundur dengan menghentikan puasamu meski kau lapar)

Adakah di antara kita yang yakin bahwa kesehatan dan kekayaan yang kita miliki kini adalah akan selalu akan menjadi milik kita sampai akhir kisah hidup kelak? Adakah pula yang yakin bahwa sakit dan kemiskinan yang kini akrab dengan kita akan selalu dengan kita sampai akhir kisah hidup kita?

Masa depan adalah rahasia yang hanya Allah yang tahu dan kuasa pengaturannya hanyalah ada dalam genggaman Allah. Kalau begitu, hiduplah biasa-biasa saja, jangan sombong dan jangan pesimis.

Nikmati apa yang ada dengan penuh syukur, pengakuan bahwa semuanya adalah dari Allah. Hidup tak akan memberikan semua yang kita mau. Tapi dengan QANA'AH, merasa cukup dengan apa yang kita miliki, kita akan merasa telah memiliki semua yang kita butuhkan dalam hidup. Jika kita merasa bahwa kebahagiaan kita ada pada sesuatu yang belum kita miliki, maka kita tak akan pernah bisa bahagia dengan apa yang kita miliki. Salam, AIM, Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*]

Komentar

Embed Widget
x