Find and Follow Us

Senin, 18 November 2019 | 15:46 WIB

Menjadi Arif Bijaksana itu Sulit

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Rabu, 2 Oktober 2019 | 00:02 WIB
Menjadi Arif Bijaksana itu Sulit
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

MENJADI bijak itu tidak mudah. Dibutuhkan pengetahuan yang luas dan kearifan puncak serta keluasan pemaafan. Pengetahuan yang luas yang dimaksud adalah pemahaman akan suatu masalah dari berbagai sudut pandang yang memungkinkan pemiliknya tidak terjebak dalam penilaian yang salah. Tidak semua senyuman bermakna senang sebagaimana tidak semua tangisan bermakna sedih. Senyuman singa adalah persiapan menerkam, tangisan hamba adalah bisa jadi keharuan dan pengharapan.

Banyak orang yang melihat sebuah peristiwa hanya dari satu sisi, sementara ada banyak sisi yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya membentuk peristiwa itu. Orang arif adalah orang yang mampu melihat keterkaitan semua hal yang membentuk peristiwa itu sehingga tidak gampang menuduh dan menghujat seseorang karena suatu hal yang mungkin dianggap negatif atau memuji dan menyembah seseorang karena sesuatu yang dianggap positif ada di sana.

Ada orang yang jelas-jelasan mencuri jagung milik seorang yang amat kaya. Jelas status hukumnya bahwa mencuri adalah perbuatan negatif, maka disidanglah dia di pengadilan. Sang pencuri berkata: "Pak hakim, saya mencuri karena saya menganggap tanah yang ditanami jagung itu adalah tanah bapak saya yang dirampas orang kaya itu dengan cara kejam. Ada banyak saksi pak hakim. Anak dan isteri saya kelaparan, sementara saya diberhentikan dari pekerjaan saya karena fitnah oleh yang punya jagung itu kepada majikan saya. Kumpulkan semua dan mari semua bicara jujur." Arifkah jika kita langsung menghukum sang pencuri tanpa mengetahui semua fakta itu?

Seseorang memilih untuk mengatakan dan melakukan sesuatu itu adalah karena alasan-alasan yang mungkin saja tidak tunggal. Ada banyak fakta sebagai alasan yang tidak semuanya mengemuka diketahui banyak orang. Karena itulah kita tidak bisa dan tidak berhak menyalahkan orang lain dengan memastikan ketidakbaikan seseorang. Kata orang bijak: "Melihat sesuatu itu jangan dengan menutup satu mata."

Ada orang terbiasa melihat orang lain hanya dengan satu mata, yakni mata negatif. Tapi di saat yang lain, yakni saat membutuhkan bantuannya atau saat ditolongnya maka mengubah melihat dengan mata yang satunya, mata yang positif. Manusia dengan pandangan yang senantiasa berubah itu adalah manusia yang belum masuk katagori ARIF BIJAKSANA. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x