Find and Follow Us

Senin, 18 November 2019 | 15:52 WIB

Sekolah Tinggi Keislaman Ber-Himmah Aliyah Tinggi

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Selasa, 1 Oktober 2019 | 00:02 WIB
Sekolah Tinggi Keislaman Ber-Himmah Aliyah Tinggi
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

Kalau kita tahu kisah berdirinya STITAF (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Fattah) Siman Lamongan ini, kita akan sepakat bahwa STITAF ini dibangun dengan modal semangat dan cita-cita tinggi (Himmah Aliyah). KH Agus Abdul Majid, pengasuh pondok yang menaungi STITAF, menyebutnya sebagai sekolah tinggi 'bondo nekat' alias bemodal nekat sebagai terjemahan dari "man jadda wajada."

Hari ini saya menyampaikan orasi ilmiah di acara wisuda STITAF ini. Saya apresiasi semangat pengasuh pesantren, Ketua STITAF beserta para pembantu ketua beserta segenap civitas akademika, pun saya sampaikan ucapan selamat kepada wisudawan yang telah memilih dunia pendidikan sebagai ladang pengabdian. Teringat hasil penelitian Gallup Research Institute bahwa profesi guru adalah ranking kedua pekerjaan yang paling membahagiakan setelah psikolog sebagai ranking pertama.

Dari sisi penghasilan finansial, mungkin saja profesi guru berada di ranking bawah. Namun dari sisi kebahagiaan hidup, ternyata para guru ada di posisi atas. Bisa disimpaikan dari fakta ini bahwa banyaknya uang tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya tingkat kebahagiaan.

Ternyata, semangat mencerdaskan dan semangat membahagiakan orang lain menjadi salah satu pembuka pintu bahagia yang tak diragukan kejituannya. Semangat adalah salah satu wujud utama dari baik sangka kepada Allah; semangat adalah buah keyakinan hati bahwa selalu saja ada pintu yang terbuka di antara ribuan yang tertutup. Maka tugas kita adalah optimis.

Seorang lelaki tua yang JJS (jalan-jalan santai) di pantai menemukan batok kelapa. Diambilnya batok itu dan digunakannya untuk menguras lautan. Dia semangat sekali, dengan satu tujuan untuk mendapatkan ikan saat air laut sudab terkuras. Semua orang yang lewat tertawa dan menganggapnya gila. Impossible, tidak mungkin, mstahil, kata mereka. Lelaki tua itu tetap berkeyakinan mungkin dan terus bekerja. Kalaulah kita yang lewat dan memandang pekerjaan lelaki ini, pastilah kita juga memberikan respon yang sama, skeptik dan mundur di depan pintu bertuliskan "tak mungkin."

Ternyata, air laut tak kelihatan berkurang sedikitpun. Namun tiba-tiba ada ikan yang masuk dalam batok kelapa itu dan kemudian ditangkap oleh sang penguras lautan. Dengan tersenyum lelaki itu berkata: "Allah tak pernah mengecewakan orang yang semangat dan optimis."

Kepada para wisudawan saya sampaikan: "Jangan berhenti menguras lautan, Anda akan sukses suatu waktu nanti. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x