Find and Follow Us

Senin, 18 November 2019 | 16:33 WIB

Makin Canggih Sains-Teknologi, Kian Membahagiakan?

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Senin, 30 September 2019 | 00:08 WIB
Makin Canggih Sains-Teknologi, Kian Membahagiakan?
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

KEMARIN saya diundang orasi ilmiah di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah Singgahan Tuban. Lokasi Sekolah Tinggi ini di tengah hutan yang lumayan jauh dari kota. Karena kemuliaan ilmu agamalah maka lokasi ini didatangi banyak orang yang ingin mondok dan sekolah.

Hati saya menyimpulkan bahwa semua yang membawa nama Allah dan agama Allah pasti akan dicari banyak orang. Allahlah yang mengatur dan mengetuk hati para hambanya. Meski berlokasi jauh, namun saya senang sekali hadir di acara ini. Alamnya mengingatkan saya pada kampus-kampus di luar negeri yang juga banyak jauh dari kota.

Dalam acara ini saya kutip buku "The Third Wave" dan "Future Shock" karya Alvin Toffler, buku lama yang berkisah tentang kemungkinan besar terjadi pada masyarakat yang dikepung oleh hiruk pikuk informasi dunia. Penyakit sepi di saat ramai dan penyakit kepanikah epistemilogis adalah di antaranya.

Lalu, psikolog kawakan Daniel Goleman pernah berkata bahwa generasi yang lahir setelah tahun 1970 memiliki kemungkinan stress 3 sampai 10 kali lipat manusia yang lahir tahun sebelumnya. Ini berarti bahwa semakin majunya sains dan teknologi tidak selalu segaris lurus dengan semakin bahagianya masyarakat. Kenapa?

Benar bahwa kemajuan teknologi menyajikan kemudahan-kemudahan hidup. Namun karena banyaknya pilihan-pilihan hidup dan semakin ketatnya kompetisi kehidupan maka semakin banyak pekejaan dunia yang "harus" dikerjakan. Secara tak sadar, ini akan melalaikan masyarakat dari urusan spiritual. Terabaikannya dimensi spiritual ini pada akhirnya menyebabkan penyakit yang saya sebutkan di atas. Karena itu, sesungguhnya peran lembaga pendidikan keislaman semakin diperlukan demi tetap bahagianya masyarakat.

Ketidakpedulian masyarakat pada urusan agama, spiritualitas, akhirat merupakan sebuah penyimpangan akan ayat-ayat Al-Qur'an atau bahkan sikap menantang melawan Allah. Bukankah Allah yang berfirman bahwa orang-orang yang beriman itu kebahagiaannya dijamin Allah? Bukanlah Allah yang menyatakan bahwa urusan akhirat itu lebih utama dibandingkan urusan dunia? Lalu mengapa urusan yang penting ini tidak dipentingkan? Mungkinkah bahagia dengan cara ini?

Setelah orasi ilmiah saya pun pamit pulang duluan karena harus pergi ke ujung pulau untuk ceramah malam nanti. Di tengah jalan pulang, berkumandanglah adzan dhuhur dari sebuah masjis pinggir jalan raya. Suara dan lantunan nada adzannya indah sekali dan mengingatkan saya pada masjid Nabawi. Persis sekali adzan ini dengan adzan masjid Nabawi Madinah yang melengking tinggi dan meliuk-liuk menyentuh setiap hati. Saya senang sekali karena ternyata masyarakat masih punya semangat menghidupkan masjid.

Saya pun turun menuju masjid itu. Ternyata, masjid itu sepi dan tak ada orang sama sekali. Saya mencari muadzdzin (tukang adzan)nya. Ternyata tak saya temukan juga. Setelah keliling masjid, bertemulah saya dengan kakek-kakek yang memegang sapu sambil batuk mengi. Saya tanya beliau tentang siapa yang adzan tadi. Kakek itu dengan suara serak berat menjawab: "Kaset." Sayapun bersedih. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x