Find and Follow Us

Selasa, 15 Oktober 2019 | 01:57 WIB

Ketika Ruh Ponpes Masuk ke Tubuh Perguruan Tinggi

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Senin, 23 September 2019 | 00:04 WIB
Ketika Ruh Ponpes Masuk ke Tubuh Perguruan Tinggi
(Ilustrasi)
facebook twitter

SAYA kemarin diundang menyampaikan orasi ilmiah di acara wisuda S1 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum (STAIDU) Banyuwangi. STAIDU ini berdiri di bawah naungan Pondok Pesantren Manbaul Ulum, salah satu pondok tertua di Banyuwangi. Hadir dalam acara ini banyak kiai, acara tersusun apik dengan sentuhan rasa santri. Sambutan Ketua STAIDU pun penuh dengan dalil dan logika keagamaan.

Di acara ini saya menyampaikan dua hal penting kepada wisudawan Ekonomi Syari'ah ini, yakni pentingnya mempelajari dan menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam setiap transaksi ekonomi. Ini adalah syarat utama untuk menggapai keberkahan. Keberkahan itu adalah lebih dari sekadar keuntungan. Ada orang yang dalam transaksi ekonomi menuai keuntungan finansial namun gagal mendapatkan keberkahan. Akhirnya, pertambahan kekayaannya tidak segaris lurus dengan kebahagiaan. Mereka pun jatuh dalam derita.

Belajar ekonomi Islam itu sangat membantu kita lebih mengerti jalan yang disuka Allah dan Rasulullah. Khalifah Umar bin Khattab melarang orang yang tidak mengerti hukum ekonomi Islam untuk masuk ke dalam pasar. Mengapa? Dalam pasar itu ada banyak "syetan" peruntuk keberkahan, mulai dari godaan kecurangan (fraud) sampai pada riba/renten. Bagaimana hukumnya dan bagaimana cara kita menjauhinya adalah dikaji dalam studi ekonomi Islam.

Hal kedua yang saya sampaikan adalah banyaknya orang yang makmur secara ekonomi namun hancur dalam hal rasa dan hati. Orang yang hidup dalam kemudahan teknologi dan industri memiliki banyak pilihan-pilihan dalam kehidupannya. Satu sisi, banyaknya opsi itu bermakna kemudahan.

Namun sudah tahukah kita bahwa semakin banyak pilihan itu semakin membuat bingung? Dulu saat hanya ada satu TV, yakni TVRI, dan satu radio, yakni RRI, berita itu hanya satu dan berita itulah yang dianggap sebagai berita. Orang tidak pusing dengan alternatif lain. Bagaimana dengan kini yang dipenuhi dengan berbagai berita berbeda dari stasiun yang berbeda? Masyarakat terbelah, masyarakat bjngung dan pusing hjngga akhirnya frustasi. Ini baru contoh dari dunia informasi.

Dari dunia fashion (baju), food (makanan) dan fun (tontonan) yang semakin banyak ragam pilihan juga membuat bayak orang kurang mensyukuri apa yang ada dan pusing memikirkan yang tak ada. Bagaimana solusinya? Satu-satunya solusi adalah penguatan nilai keislaman dalam kehidupan. Nilai kepesantrenan yang mengajarkan kesederhanaan dan keruhanian sangat bagus untuk seelalu dilekatkan dalam kehidupan kita kini, terutama di dunia pendidikan tinggi kita.

Sangat senang sekali hari ini saya menyaksikan Perguruan Tinggi yang kental dengan ruh kepesantrenan. Santri harus selalu maju dan bahagia. Santri harus mampu tampil mendefinisikan diri dan menjadi teladan bagi yang lain. Hati-hati dengan orang yang bukan santri dan belum pernah nyantri namun tiba-tiba menilai santri dengan penilaian negatif. Maklumi saja sebagai orang yang gak tahu tapi merasa tahu. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x