Find and Follow Us

Senin, 21 Oktober 2019 | 20:16 WIB

Mat Kelor Berhaji Lagi (31)

Mat Kelor Berkisah, Tertawa, Kemudian Menangis

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Rabu, 18 September 2019 | 03:30 WIB
Mat Kelor Berkisah, Tertawa, Kemudian Menangis
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

SALAH satu yang membuat saya suka bertemu Mat Kelor adalah kesukaannya berkisah yang unik-unik namun penuh hikmah. Saya agak curiga juga jangan-jangan Mat Kelor ini adalah "utusan" Tuhan untuk mengajari kita memungut hikmah kehidupan yang banyak tercecer dalam kisah orang-orang yang terlupakan banyak orang.

Suatu hari, saat berkunjung ke pondok pesantren saya, dia bertanya tentang orang-orang yang menyumbang pembangunan pondok. Saya katakan bahwa mereka adalah para hamba Allah, banyak namanya yang tak mau disebutkan.

Lalu Mat Kelor berkomentar: "Jadilah bagaikan butir-butir gula, seringkali dia tak disebut-sebut dan dilupa karena menjadi bagian tak tampak saat bercampur dengan makanan lain yang menjadi manis lezat karenanya. Namun gula tak pernah ngambek dan jengkel dengan menjadi tak manis."

Walaupun saya sering mendengar kalimat yang semakna dengan itu, namun saat yang menyampaikannya adalah Mat Kelor yang asli desa dan tak berpendidikan tinggi, saya menjadi terpesona dengan keterpesonaan yang orisinil. Lalu, Mat Kelor saya ajak keliling pesantren untuk melihat progres pembangunan pondok. Sambil berjalan, beliau bercerita sambil tertawa bahwa saat shalat dhuhur di sebuah masjid di tengah kota, Mat Kelor bertemu dengan seorang pengemis yang diberinya uang Rp5.000 di perempatan jalan tengah kota itu.

Pengemis itu shalat jamaah dan kemudian memasukkan beberapa lembar uang ke dalam kotak amal. Mat Kelor terkesima lalu bertanya tentang kelakuannya itu. Sang pengemis berkata: "Saya memang pengemis Pak Haji. Saya ingin masuk surga dan menjadi kaya di akhirat. Makanya saya wajibkan diri saya shalat jamaah dan kemudian bershadaqah semampu saya."

Mat Kelor bertanya: "Kamu tadi shadaqah berapa?" Pengemis itu menjawab: "Mulai tadi pagi, hanya Pak Haji yang kasih saya uang. Selembar uang Rp5.000-an dari Pak Haji saya tukar menjadi 5 lembar, tiga lembar saya masukkan kotak ini sebagai shadaqah. Siapa tahu saya masuk surga karena itu." Mat Kelor tertawa tapi kemudian menangis haru. Kisah selanjutnya, tak diijinkannya untuk saya kisahkan. Giliran saya yang menangis haru.

Mat Kelor melihat tumpukan semen di samping bangunan pondok puteri dan bertanya dari mana semen merek SCG itu. Saya ceritakan bahwa semen itu adalah semen baru yang sedang naik daun, semen kualitas utama, yang dikirimkan oleh bosnya langsung ke pondok ini sebanyak satu tronton.

Bos yang saya maksud itu adalah jamaah haji Kanomas yang berangkat haji tahun 2018 dan 2019 kemaren. Mat Kelor berteriak kaget dan kagum saat saya sebut namanya. Lalu saya bercerita tentang bos semen itu, sebuah kisah yang saya minta Mat Kelor untuk merahasiakannya.

Mat Kelor manggut-manggut sambil berdecak kagum. Lalu dia berkata: "Kapan ya giliran saya untuk shadaqah ke pondok ini?" Saya sampaikan beberapa nama sahabat haji yang juga ikut berpartisipasi dalam pembangunan pondok ini. Mat Kelor lalu pamit pulang, dia memeluk saya. Aroma parfum Arab yang dibelinya bersama saya sangat kuat terasa. Dia berbisik: "Tunggu giliran saya." Saya jawab berbisik: "Jangan lama-lama, biar ke surganya tidak pakai antri panjang." Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x