Find and Follow Us

Selasa, 15 Oktober 2019 | 00:49 WIB

Bahagiakan Diri dengan Membahagiakan Orang Lain

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Senin, 16 September 2019 | 00:05 WIB
Bahagiakan Diri dengan Membahagiakan Orang Lain
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

NILAI seseorang itu bukan terletak pada apa yang dia tampakkan bagimu dari aksesoris lahiriyahnya melainkan pada apa yang dilakukan untukmu demi kebaikan dirimu baik berupa doa yang dilantunkan ataupun upaya nyata untuk membahagiakanmu. Promosi dan iklan diri begitu banyak, namun fakta berupa perbuatan tulus sarat manfaat yang bersifat istiqamah sangatlah terbatas.

Kehebatan Nabi Muhammad terletak pada kesediaannya mengorbankan keseluruhan hidupnya untuk kebahagiaan ummatnya. Seringkali beliau menangis berdoa demi untuk kebahagiaan ummatnya. Seringkali beliau merasa berat berpikir tentang ummatnya.

Beliau tak pernah bertemu dengan semua ummatnya, termasuk dengan kita. Namun kita sudah berada dalam pikiran dan doa beliau. Pertanyaannya adalah sudah pernahkah kita menangis cinta dan rindu kepada beliau? Seringkah kita lantunkan shalawat kepada beliau?

Kalau kita setuju dengan ulasan singkat di atas, maka kita akan menyatakan pula bahwa orang terbaik adalah orang yang pikiran, doa dan perbuatannya adalah bervisi kemanfaatan bagi orang lain. Maukah kita menjadi insan terbaik? Marilah kita banyak berbuat untuk kebahagian orang lain, kebahagiaan orang yang ada di sekitar kita. Mulailah dengan membahagiakan orang terdekat kita. Jalani terus dan rasakan perubahan rasa dalam menjani kehidupan.

Banyak orang yang fokus membahagiakan diri sendiri dengan cara yang salah, yakni dengan memanjakan dirinya sendiri tanpa pernah mau "memanjakan" orang lain yang tidak pernah memiliki kesempatan dan fasilitas untuk manja. Mereka lupa pesan kehidupan Rasulullah bahwa kebahagiaanmu ada pada membahagiakanmu pada orang lain.

Saya senang minggu-minggu ini saya bersama dengan orang yang senang membahagiakan orang lain. Ada yang menghaji pluskan 6 orang, ada yang membangunkan pondok seorang ustadz, ada yang menanggung beban hidup beberapa keluarga dan ada yang senang keliling berbagi senyum dengan fakir miskin. Semua orang ini sungguh berbahagia, terlihat secara lahir dan tersirat secara batin. Bagaimana dengan kita? Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x