Find and Follow Us

Minggu, 22 September 2019 | 17:02 WIB

Mat Kelor Berhaji Lagi (30)

Didaulat Khutbah Jumat, Berhutbah Tentang Keluarga

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Senin, 9 September 2019 | 15:14 WIB
Didaulat Khutbah Jumat, Berhutbah Tentang Keluarga
(Ilustrasi)
facebook twitter

ORANG yang sudah berhaji adalah biasa mengalami kenaikan pangkat status sosial di masyarakat. Di Jawa, orang yang sudah berhaji lazim dipanggil Abah, di Madura dipanggil Kak Toan, dan saya kira demikian pula di daerah lain dengan sebutan yang berbeda-beda. Dalam acara keagamaan, mereka didahulukan dan setengah diistimewakan, terutama yang baru datang haji.

Jum'at kemarin agak terasa mengejutkan bagi Mat Kelor yang didaulat berkhutbah menggantikan khatib asli yang kebetulan terjatuh di kamar mandi masjid menjelang adzan berkumandang. Jamaah mendadak heboh mencari badal (ganti). Akhirnya semua sepakat Mat Kelorlah yang paling layak. Pakaiannya adalah gamis, songkok dan surbannya ala Arab. Parfumnya pun khas hajar aswad. Mat Kelor tak menolak, apalagi memang sudah pernah menjadi badal khatib pada tahun lalu. Bedanya, yang hari ini mendadak sekali.

Matanya memandang atap masjid seakan berpikir keras materi apa yang akan disampaikan. Dia pejamkan mata lalu membukanya kembali dan menoleh ke kanan dan kekiri sambil berkata: "Yaa Allaaah." Sepertinya berat baginya. Tiba waktunya naik mimbar, Mat Kelor naik pelan sekali sambil membetulkan gaya surbannya bagai khatib Jum'at Masjid Nabawi yang dilihatnya minggu kemaren. Mat Kelor memakai kacamata hitam gelap, mungkin itu cara dia menutupi tanda grogi yang biasa terlihat dari gerak-gerik mata. Berikut sebagian isi khutbahnya:

"Ada suami istri yang pola hubungannya bagai dua bola mata dalam satu kepala. Dua-duanya sama-sama bisa melihat, tapi tidak saling melihat satu dengan lainnya. Cuek sekali kecuali jika salah satunya atau kedua-duanya sakit." Jamaah terkesima dengan pemisalan indah ini. Jamaah menunggu penjelasan lebih tentang perumpamaan itu.

Dengan nada mantap dia melanjutkan: "Jangan menunggu sakit, akurlah dan damailah, salinglah perhatian dan salinglah membantu bagai kedua tangan yang selalu kompak saling garuk ketika gatal, bersama angkat beban untuk selesainya kerja dan tergapainya bahagia."

Seusai khutbah, banyak orang bersalaman dan mengerumuninya. Semua diajaknya ke rumahnya untuk makan bersama. Awalnya banyak yang menolak karena kasihan nanti akan habis biaya banyak. Mat Kelor berkata: "Pembimbing haji saya berkata dalam kajian terakhir di Madinah bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah makan kecuali ada tamu. Nabi Ibrahim diangkat menjadi kekasih Allah karena senang memberi dan tak pernah meminta. Saya ingin meneladani Nabi Ibrahim." Semua jamaah semasjid kompak berkata: "Terimakasih Pak Haji Ibrahim. Siapa nama pembimbing hajinya?" Mat Kelor terdiam, lalu berkata: "Salam, AIM". [*]

Komentar

Embed Widget
x