Find and Follow Us

Senin, 21 Oktober 2019 | 19:17 WIB

Mat Kelor Berhaji Lagi (29)

Kecerdasan Putra Mat Kelor

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Jumat, 6 September 2019 | 00:04 WIB
Kecerdasan Putra Mat Kelor
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

SALAH satu doa Mat Kelor saat di tempat-tempat mustajab di tanah suci adalah tentang putra semata wayangnya, putra tunggal yang kini duduk di kelas dua Sekolah Dasar Negeri. "Ya Allah, cerdaskan anakku, mampukan dia berpikir sesuatu yang tak mampu dipikir orang lain," demikian salah satu bunyi doanya. Mungkin doa ini karena kesadaran dirinya yang dianggap "tak begitu cerdas" walau selalu mujur.

Ternyata doa Mat Kelor sangat berpengaruh. Terlihat ada perubahan besar pada putranya yang tampak lebih rajin membaca buku. Hanya saja, buku yang dibacanya bukan buku pelajaran melainkan buku-buku yang tak begitu banyak disuka teman sekelasnya. Seringkali pertanyaannya sulit dijawab oleh gurunya. Di samping itu juga, sering sekali jawaban putra Mat Kelor itu di luar dugaan gurunya.

Saat pelajaran ilmu bumi, putra Mat Kelor ditanya dimanakah letak negara Cina? Dijawabnya: "Waduh Bapak ngetes ingatan saya. Ya tidak jauh lah Pak. Kakak kelas saya, Si Noisan, kan keturunan Cina Pak. Dia datang ke sekolah cuma naik sepeda pancal 1 jam. Berarti dekat kan lokasi negaranya." Gurunya kaget dengan jawaban itu, lalu tertawa dan menjadi kisah di kalangan para guru.

Esok harinya, saat pelajaran Matematika, putra Mat Kelor membuat heboh kelas lagi. Rupanya memang sulit baginya berpikir matematis, persis Bapaknya yang dalam berdagang tak berpikir untung rugi. Gurunya bertanya: "Kalau ibumu membeli baju 2 juta rupiah, lalu membeli perhiasan emas 8 juta rupiah, maka bagaimanakah hasilnya?" Murid yang lain manggut-manggut dan banyak yang acungkan tangan tanda tahu semua hasilnya. Namun yang ditanya adalah anak Mat Kelor. Dia menjawab: "Hasilnya pasti dimarahi Bapak atau bahkan dicerai. Bapak biasanya beli yang murah-murah. Di Mekah biasanya langganan Pasar Nengnong Ja'fariyah." Pak guru geleng kepala dan kemudian tertawa.

Murid seperti ini janganlah disalahkan dan diberi nilai jelek. Dia mampu berpikir dengan jalan pikiran yang lain dari yang lain. Sekolah yang baik adalah yang mampu mengarahkan murid dengan segala keunikan bakat dan gaya berpikirnya.

Mat Kelor dipanggil ke aekolah dan ditanya perihal penyebab "kelainan" gaya berpikirnya. Dia menjawab: "Pertama adalah karena saya salah baca doa saat 'membuat' dia, keliru membaca doa tidur. Kedua, saya beruntung karena sempat naik haji dan berdoa di tanah suci agar anak saya cerdas. Jadilah anak saya memiliki kelainan yang cerdas." Dewan guru tertawa, saya juga. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x