Find and Follow Us

Senin, 21 Oktober 2019 | 19:16 WIB

Mat Kelor Berhaji Lagi (28)

Godaan Pasca-Haji

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Rabu, 4 September 2019 | 03:30 WIB
Godaan Pasca-Haji
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

KALAULAH kita sepakat bahwa prosesi haji itu adalah proses pendidikan jiwa untuk kembali ke jalan lurus, maka janganlah kaget kalau pasca-haji itu selalu saja ada beragam test, yakni test menguji kelulusan proses pendidikan itu. Materi test beragam dari test kesabaran, test kestiqamahan ibadah, test kedermawanan dan lain sebagainya. Mat Kelor saat ini terkena ujian pula, ujian kesabaran. Bagaimanakah kisah ujian Mat Kelor pasca-haji?

Tiba-tiba istri Mat Kelor itu marah, matanya memerah, tak mau lagi menerima alasan ketika mendapati handphone sang suami penuh dengan pesan WA rayuan dari seseorang. Wanita itu setengah berteriak berkata: "Pergi, pergilah jauh dari sini, ambil semua yang ada di rumah ini, aku relakan semuanya."

Mat Kelor terdiam dan terhempas dalam kekagetan yang sangat. Namun dia tak menangis, tak pula amarah. Cuma dengan sedikit tangan gemetar ia maju ke depan, mengambil tangan kiri istrinya yang masih marah itu, sambil berkata pelan: "Yang ku ambil adalah tanganmu untuk kubawa pergi, semoga hatimu rela untuk mengikutinya, karena satu-satunya alasan aku betah di sini adalah karena adamu di sini."

Istri Mat Kelor itu terdiam menunduk seakan menunggu kalimat-kalimat penjelas sebagai syarah dari sikap sang suami. Mat Kelorpun melanjutkan kata: "handphone itu tak punya akal dan hati, ia tak bisa memilih pesan WA dan telpon yang mana yang harus masuk. Namun pemilik handphone ini memiliki hati, sangat tahu pesan WA dan telpon mana yang bisa dilayani dan mana yang tidak."

"Sekarang terserah dirimu, percaya pada HP yang tak punya akal dan hati atau percaya kepadaku yang punya akal dan hati. Akal dan hatiku tetap membimbingku untuk membawa tanganmu pergi. Bagaimana denganmu?" ujar sang Mat Kelor yang tidak habis pikir mengapa banyak sekali WA nyasar ke handphonenya.

Istri Mat Kelor ini tak menjawab kecuali semakin mendekatkan tubuhnya dalam dekapan Mat Kelor sambil terisak: "ku cuma takut kehilangan kak toan Mat Kelor." Kini suasana menjadi sepi dan senyap. Kedua pasang mata saling menatap dan bergantian berkedip. Mat Kelor berbisik halus: "Mari kita ke tempat sa'i." Keduanya tersenyum menghapus curiga, melukis cinta.

Ada saja godaan hidup. Selesaikan semua masalah dengan musyawarah. Jangan lakukan yang melanggar syari'at agar citra haji kita tetap terjaga. Mari kita saling mengingatkan dan mari kita saling mendukung untuk kebahagiaan kita dunia dan akhirat. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x