Find and Follow Us

Senin, 18 November 2019 | 20:57 WIB

Tahiyatul Masjid saat Khotbah Jumat Mengapa tidak?

Rabu, 28 Agustus 2019 | 06:00 WIB
Tahiyatul Masjid saat Khotbah Jumat Mengapa tidak?
(Ilustrasi)
facebook twitter

SECARA umum bagi jemaah salat Jumat adalah mesti tertib dan tenang, serta perhatian terhadap khotbah Jumat. Bahkan, memerintahkan orang lain untuk diam saja juga terlarang dan termasuk yang membuat hilang kesempurnaan salat Jumat orang tersebut.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, katanya bahwa Nabi bersabda, "Jika kamu berkata kepada kawanmu pada hari (salat) Jumat: "Diam!" sedangkan Imam sedang berkhotbah, maka engkau telah sia-sia." (HR. Bukhari No. 934, Muslim No. 851)

Imam An Nawawi menjelaskan maksud Laghawta adalah engkau telah mengatakan perkataan yang melalaikan, gugur, sia-sia, dan tertolak. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/138)

Bahkan Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma begitu marah kepada orang yang berbicara saat imam khotbah. Alqamah bin Abdullah bercerita, bahwasanya Ibnu Umar berkata kepada laki-laki yang mengajak bicara pada sahabatnya di hari Jumat dan imam sedang khotbah: "Ada pun kamu, kamu ini keledai, sedangkan kawanmu tidak ada Jumat baginya." (Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 26103)

Semua riwayat ini, dan yang semisalnya, merupakan larangan secara mutlak berbicara pada saat imam sedang khotbah. Tetapi, kita dapati riwayat lain bahwa saat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang khotbah justru Beliau memerintahkan seorang jemaah yang baru sampai ke masjid untuk salat tahiyatul masjid.

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu Anhu, katanya, "Datang seorang laki-laki dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang berkhotbah di hadapan manusia pada hari Jumat. Beliau bersabda: "Wahai fulan, apakah engkau sudah salat?" orang itu menjawab: "Tidak." Beliau bersabda: "Bangunlah dan salatlah dua rakaat." (HR. Bukhari No. 930, dan Muslim No. 875)

Perkataan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: "Bangunlah" menunjukkan bahwa sebelumnya orang tersebut telah duduk lebih dahulu. Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa terlanjur "duduk" tidaklah membuat kesunahan tahiyatul masjid menjadi gugur. (Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/228)

Maka kisah di atas menjadi dalil yang muqayyad (mengikat) bahwa tidak semua terlarang, sehingga spesial untuk salat tahiyatul masjid dibolehkan walau imam sedang khotbah Jumat. Hal ini sesuai kaidah "Hamlul Muthlaq Alal Muqayyad" yaitu memahami dalil yang masih umum (mutlak) berdasarkan dalil yang sudah khusus dan terikat (muqayyad). Jadi, secara umum memang dilarang berbicara ketika imam sedang khotbah, namun dikecualikan salat tahiyatul masjid.

Sebenarnya hal ini diperselisihkan ulama, sebagian mereka mengatakan tetap tidak boleh salat tahiyatul masjid ketika imam sedang khotbah. Alasannya bahwa kisah di atas adalah khusus bagi laki-laki itu saja, tidak berlaku umum. Dalam riwayat Ath Thabarani diketahui bahwa laki-laki tersebut bernama Sulaik. Ada juga yang mengatakan bahwa pembolehan ini hanya berlaku pada awal Islam yang sudah dihapus. Alasan lain adalah bahwa ada seseorang yang sedang melewati punggung jemaah, lalu nabi memerintahkan duduk dan berkata "engkau telah mengganggu."

Kisah ini tidak memerintahkan salat tahiyatul masjid tapi memerintahkan duduk. Namun semua dalil ini dikoreksi oleh Imam Ibnu Hajar Rahimahullah secara baik; bahwasanya tidak ada dasarnya mengatakan itu khusus bagi Sulaik saja, tidak benar bahwa peristiwa ini telah dihapus hukumnya sebab Salik termasuk orang yang akhir masuk Islam, lalu perintah nabi kepada seorang laki-laki untuk duduk bukan salat tahiyatul masjid menunjukkan bahwa tahiyatul masjid bukan wajib tapi sunah, bukan menunjukkan larangan dilakukan ketika khotbah sehingga menurutnya bahwa salat tahiyatul masjid saat imam khotbah tetap boleh. (Lihat detilnya dalam Fathul Bari, 2/407-410, ada sebelas hujjah yang dikoreksi oleh Al Hafizh Ibnu Hajar)

Imam Abu Thayyib Syamsul Azhim Abadi Rahimahullah mengatakan, "Hadis ini menjadi dalil, bahwa tahiyatul masjid dilakukan ketika keadaan khotbah. Inilah pendapat segolongan ahli fikih dan ahli hadis, dan hendaknya meringankan salatnya agar bisa langsung mendengarkan khotbah. Segolongan salaf ada yang mengingkari dibolehkan tahiyatul masjid ketika khotbah. Namun, hadis ini menjadi hujjah (baca: bantahan) atas mereka. Mereka mencoba mentakwilkannya sampai sebelas takwilan, dan semuanya tertolak, disebutkan satu persatu oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan beserta bantahannya." (Aunul MAbud, 3/327)
Wallahu A'lam. [Ust. Farid Nu'man Hasan, SS]

Komentar

Embed Widget
x