Find and Follow Us

Sabtu, 21 September 2019 | 09:47 WIB

Mat Kelor Berhaji Lagi (17)

Ikutilah Orang yang Kamu Ikuti

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Kamis, 22 Agustus 2019 | 00:07 WIB
Ikutilah Orang yang Kamu Ikuti
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

ADA suami isteri jamaah haji yang selalu saja kelihatan bingung. Beliau berdua sering mojok dan terlibat diskusi panjang via telepon dengan orang-orang di rumahnya. Tadi malam sang isteri kelihatan murung setengah mau menangis, entah karena apa. Saya meminta Mat Kelor untuk mencari tahu ada apa gerangan. Kasihan kalau selama di tanah suci ini waktunya habis mengurusi hal-hal di luar ibadah.

Kepada Mat Kelor suaminya bertutur bahwa mereka sedang bingung memutuskan calon suami untuk anaknya yang kebetulan didekati oleh tiga tipe laki-laki: seorang pemuda pebisnis kaya, seorang pemuda keturunan orang terpandang dan seorang pemuda yang urusan hariannya adalah berkaitan dengan keagamaan. Mat Kelor tertawa ngakak dan berkata: "Ya tinggal pilih lah, ngapain bingung. Yang berhak bingung adalah yang tidak ada yang milih. Itupun sesungguhnya tidak perlu bingung-bingung. Allah yang mengatur."

Kebanyakan manusia memang ingin semua kesempurnaan itu menjadi miliknya, namun lupa bahwa tidak ada yang memiliki kesempurnaan yang sempurna. Sepertinya kedua orang tua itu ingin meniru ungkapan lama: "makan di barat tidur di timur," yang bermakna urusan makan mau bersuamikan yang kaya tapi urusan tidur mau bersama yang ganteng. Yang begini ini tentu tidak baik dan tak elok, harus memilih. Mereka sepertinya bingung memilih.

Mat Kelor memberikan saran: "Bapak ibu kan jamaah haji dan insyaAllah mabrur. Siapakah yang paling menjadi panutan Bapak Ibu?" Mereka kompak menjawab: "Rasulullah." Mat Kelor tersenyum seakan masalah telah selesai. Dia melanjutkan: "Kata kiai saya, dalam memilih jodoh itu kalau kisah jaman dulu pasti memilih menantu yang kaya, sementara kalau kaisar Romawi memilih yang ganteng. Raja Arab memilih menantu yang nasab keturunannya paling mulia, sementara Nabi Muhammad memilih yang agamanya paling bagus. Maka ikutilah apa yang menjadi pilihan orang yang Bapak Ibu ikuti. Perdebatan titik sampai di sini." Mat Kelor lalu pergi.

Bagus sekali nasehat Mat Kelor itu. Saya tahu nasehat Mat Kelor itu setelah kedua orang itu datang dan bercerita kepada saya tentang nasehat Mat Kelor. Saya tersenyum dan merasa senang bahwa sudah ada jawaban pas. Saya tidak perlu memberikan tambahan nasehat lagi. Di akhir perbincangan dengan saya, kedua suami isteri ini tampak masih agak bingung dan bertanya: "Terus, kami harus pilih yang mana?" Saya berdiri lalu pergi, tak mau saya menambahi kata bertuah Mat Kelor, bisa kualat. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x