Find and Follow Us

Sabtu, 21 September 2019 | 09:40 WIB

Beratnya Berutang, Tak Boleh Hidup Bergaya Bebas

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Rabu, 21 Agustus 2019 | 00:02 WIB
Beratnya Berutang, Tak Boleh Hidup Bergaya Bebas
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

TULISAN ini bukan untuk membully dan atau menakut-nakuti semua pembaca yang memiliki utang. Saya doakan semoga semua utang segera bisa dilunasi. Semoga jalur rizki baik dari langit atau dari bumi dilancarkan dan dimudahkan oleh Allah. Saya hanya ingin berbagi sesuatu yang mungkin saja bermanfaat mengarahkan tingkah laku kita untuk lebih baik menata hidup.

Sufyan al-Tsauri, seorang ulama besar yang dawuhnya seringdigunakan sebagai rujukan, ditanya tentang seseorang yang memiliki UTANG, bolehkah dia makan daging? Beliau menjawab "TIDAK BOLEH."

Demikian diceritakan dalam kitab Hilyatul Auliya' 7/19. Konteks zaman itu adalah bahwa memakan daging merupakan gaya hidup orang berkelas, orang kaya.

Orang yang punya utang terlarang hidup mewah, berfoya-foya, sementara utangnya belum dibayar. Harta yang ada harus digunakan untuk membayar utang, bukan untuk bergaya hidup berjalan ke sana ke sini dan makan ini itu serta makan di sini dan di sana. Orang yang punya utang harus berupaya bergaya hidup super sederhana. Bagaimana jika hal ini dilanggar?

Jawaban atas pertanyaan itu adalah bahwa orang itu akan kesulitan membayar utangnya dan akan dicabut keberkahan hidupnya. Allah akan menutup jalur rizki untuknya, semakin lama yang dirasakannya adalah ketertekanan dan kehinaan, kegalauan dan kebingungan hidup. Demi untuk kebahagiaan manusia maka Islam menganjurkan kita untuk segera melunasi utang dan berterima kasih kepada pemberi utang serta meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan.

Lalu bagaimanakah dengan orang yang berutang bukan untuk kebutuhan primer lalu sengaja tidak membayarnya dan bahkan menyakiti pengutangnya? Lanjutkan saja jawabannya. Orang waras pasti jawabannya tepat. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x