Find and Follow Us

Sabtu, 21 September 2019 | 10:20 WIB

Mat Kelor Berhaji Lagi (16)

Pertengkaran di Depan Ka'bah

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Rabu, 21 Agustus 2019 | 03:30 WIB
Pertengkaran di Depan Ka'bah
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

BIAYA hidup di Saudi Arabia bagi mukimin (orang luar Saudi yang tinggal di Saudi) memanglah berat. Perpanjangan iqamah (surat ijin tinggal) nya saja per tahun 15.000 riyal. Belum lagi pajak bulanan jika tinggal dengan keluarga yang besarannya adalah 400 riyal perkepala.

Jika pekerjaanya cuma sebagai supir atau pembantu keluarga yang setiap bulannya hanya bergaji sekitar 1.500 sampai dengan 2.500 riyal maka sungguh tidaklah cukup. Biaya hidupnya berapa dan yang harus dikirimkan ke Indonesia memenuhi pengharapan keluarganya juga berapa.

Wajar saja kalau beberapa mukimin mencari peluang bekerja sampingan. Ada yang bekerja sebagai makelar HP, makelar makanan, dan bahkan ada juga yang menjadi makelar mencium hajar aswad. Nah profesi sampingan yang terakhir ini agak unik dan tetap ada walau seringkali ditegur karena sering ada keributan sampai polisi pernah turun tangan. Kali ini saya tidak akan bicara tentang hukum menjadi makelar mencium hajar aswad, saya akan bercerita apa yang saya alami.

Barusan, saya dan Mat Kelor berupaya mendekat ke Multazam, Hinir Ismail dan Rukun Yamani. Saat berada di Multazam, seorang berpakaian batik haji Indonesia menawarkan diri untuk mengantar saya cium hajar aswad. Saya menggelengkan kepala dan berkata "tidak." Dia dengan timnya memaksa terus menawarkan jasa. Saya tolak. Lalu mereka menawarkan kepada seorang ibu dan suaminya, mereka meminta bayaran 50, saya mendengar jelas karena persis di sebelah saya.

Aksi dorong-mendorong begitu mengheboh. Tim itu serundul kanan serundul kiri, sayapun terkena imbas serundulan. Orang-orang kulit hitam ikut mengamuk setelah terkena sikut. Suasana mencekam. Saya dan Mat Kelor menjadi penonton bagaimana akhir drama itu. Hampir ibu itu sampai ke hajar aswad, terpental dia dan mengaduh. Kembali mereka berupaya, bau keringat mereka menyengat hidung dan kemudian kembali gagal.

Sekitar setengah jaman mereka berusaha dan akhirnya bisa mencium tapi kemudian terlempar. Sang suami mengeluarkan uang Rp50.000. Sang makelar menolak meminta 50 riyal dan katanya itu sudah termurah sedunia. Sang suami ibu itu tetap ngotot Rp50.000 karena itu yang dia pahami. Mencangkul seharian saja hanya Rp50 ribu, katanya.

Ketua tim membentak: "Ini Arab Pak, uangnya uang riyal." Bapak itu menjawab: "Saya dan sampeyan Indonesia Pak, mikirnya ya mikir Indonesia." Mereka bertengkar. Mat Kelor melerai sambil berkata: "Sudah diam semua. Malu-maluin sesama Indonesia bertengkar, di depan ka'bah lagi. Ini ada kamera CCTV nya, ditonton Raja Salman. Apa gak malu." Saya tertawa mendengar Raja Salman disebut menonyon orang tawaf. Namun dua orang itu kemudian saling diam dan kemudian berpisah.

Mat Kelor mengejar ketua tim makelar yang memakai baju batik haji itu dan berkata: "Kamu itu tidak benar. Menyamar sebagai jamaah haji padahal kerjanya tukang serundul orang ibadah di depan ka'bah. Sebagai sesama Indonesia saya menyarankan, carilah rizki dengan cara yang halal, baik dan tak menyakiti siapapun. Bagaimana caramu meminta maaf kepada orang yang kamu sakiti dan rugikan lewat pekerjaan seperti ini? Kalau marah sama saya, hubungi saya nanti di Indonesia, nama saya Mat Kelor."

Saya hanya diam menyaksikan ini. Saya paling takut berkelahi. Lalu saya tarik tangan Mat Kelor karena setahu saya kalau dia emosi, jurus pencak silat pamor andalan Maduranya bisa muncul otomatis. Bisa heboh pelataran ka'bah. Kami kembali ke hotel dan kini saya dipijat Mat Kelor sambil dia bercerita kehebatan daun kelor dan biji kelor sebagai nutrisi penyembuh beberapa penyakit. Saya bergumam: "Pantas moringa (kelor) disebut dengan pohon keajaiban (the miracle tree). Mat Kelor punya usaha ini di Indonesia. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x