Find and Follow Us

Minggu, 18 Agustus 2019 | 11:50 WIB

Andai Aku Mengikuti Jalan Rasulullah...

Rabu, 14 Agustus 2019 | 13:00 WIB
Andai Aku Mengikuti Jalan Rasulullah...
(Foto: ilustrasi)

PERBEDAAN dan perselisihan adalah sesuatu yang tidak diinginkan dalam islam. Dalam banyak ayat, Allah memuji persatuan dan mencela perselisihan,

"Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah (aturan Allah), dan jangan berpecah belah." (QS. Ali Imran: 103)

Allah juga berfirman,

"Mereka senantiasa bercerai kecuali orang yang dirahmati Rabnya." (QS. Hud: 118119)

Kita memahami bahwa kebenaran itu bersumber dari Allah dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Karenanya, kebenaran itu tunggal dan tidak berbilang. Kecuali jika di sana, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan beberapa model, yang umumnya terkait tata cara ibadah tertentu.

Seperti beberapa redaksi doa iftitah, doa rukuk, doa sujud, dst. yang diisitilahkan para ulama dengan khilaf tanawwu (perbedaan yang sifatnya ragam). Karena itulah, khilaf ulama bukan dalil. Dalil adalah yang bersumber dari alquran, sunnah, dan Ijma.

Bahkan sebaliknya, semua khilaf butuh terhadap dalil. Agar kita bisa memilih mana diantara pendapat itu yang paling mendekati kebenaran. Allah berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. an-Nisa: 59).

Anda bisa perhatikan, upaya kita mengembalikan kepada alquran dan sunah ketika terjadi perbedaan, merupakan bukti keimanan kita kepada Allah dan hari akhir. Bukan mempertahankan pendapat lama dengan alasan di sana ada khilaf di kalangan ulama. (Tafsir as-Sadi, hlm. 183)

Ketika anda memilih pendapat, yakni bahwa anda akan ditanya oleh Allah, mengapa kita mengambil pendapat itu. Karena baik ulama maupun pengikut ulama, masing-masing punya tanggung jawab. Pengikut ulama bertanggung jawab untuk memilih pendapat yang paling mendekati kebenaran jika terjadi perbedaan di antara ulama.

Para ulama tidak bisa menyelamatkan kita ketika di hadapan pengadilan Allah. Masing-masing akan mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri, "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya." (QS. al-Mudatsir: 38).

Bayangkan, ketika hanya bisa gigit jari karena menyesali perbuatan kita di hari akhir,

"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Alquran ketika Alquran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia." (QS. al-Furqan: 2729).

Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

Komentar

x