Find and Follow Us

Minggu, 18 Agustus 2019 | 12:44 WIB

Mat Kelor Berhaji Lagi (6)

Pikiran Normal dan Tak Normal

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Minggu, 11 Agustus 2019 | 03:30 WIB
Pikiran Normal dan Tak Normal
(Foto: Istimewa)

LOGIKA orang desa dan logila orang kota itu memiliki gaya kerja yang berbeda. Proses berpikir orang miskin dan orang kaya juga memiliki kecepatan dan jarak yang berbeda. Meski demikian, ada yang sama di antara keduanya, yakni sama-sama merasa benar dengan pendapatnya sendiri. Nikmati saja perbedaan kesimpulan di antara mereka.

Mat Kelor dan teman barunya, Wak Kopi yang diceritakan kemaren itu, tiba-tiba melepas sandalnya di pinggir jalan lalu didudukinya. Ternyata dua orang ini asyik sekali ngobrol cangkru'an di pinggir jalan itu sambil tertawa gembira. Orang kota dan orang kaya tentu tak akan melakukan hal yang sama. Mereka akan mencari resto atau cafe untuk kongkow-kongkow. Istilah mereka saja berbeda, cangkru'an dan kongkow-kongkow.

Wak Kopi bercerita sambil geleng kepala: "Ada tidak enaknya duduk di kursi bisnis pesawat. Diperlakukan seperti orang stroke. Disuruh tidur, makan, tidur, makan tanpa jalan dan masak sendiri." Bagi orang kaya, gaya hidup dilayani tanpa kerja dan tanpa gerak adalah sebuah kemuliaan gaya hidup. Berbeda lagi gaya pikir mereka, bukan?

Mat Kelor kemudian bercerita bahwa saat pembangunan jembatan suramadu yang dari arah Surabaya yang sepanjang 5 km itu sudah bersambung dengan pembangunan jembatan Suramadu dari arah Madura yang juga sekitar 5 km lebih maka diadakanlah selamatan bersama. Tokoh dan masyarakat Madura di undang.

Pak Dirjen Bina Marga yang menjadi penanggungjawab pembangunan suramadu berkata dalam sambutannya: "Alhamdulillah, jembatan suramadu kebanggaan kita sudah menyambung menjadi satu. Kita harus bahagia." Tetangganya Mat Kelor yang ikut acara itu berdiri protes: "Addooo, menyatu kok bangga. Coba tidak bersambung, kan kita punya dua jembatan. Sekarang kita menjadi punya satu." Semua pejabat orang kota tertawa. Berbeda lagi, bukan?

Kini, hari ini, Mat Kelor dan Wak Kopi siap-siap akan berangkat tarwiyah ke Mina. Ternyata, barang bawaan dua orang ini paling banyak. Tasnya berat dan penuh, padahal panitia sudah mengumumkan bahwa semua kebutuhan makan dan minum disediakan secara melimpah. Saya tanya Mat Kelor tentang isi tasnya, dia menjawab: "Cowek dan ulek-ulek dari batu berat, untuk membuat sambel, lengkap dengan cabe, garam dan teman-temannya serta al-Qur'an besar dari Madura yang diperintahkan ibu untuk dibaca dan dikhatamkan."

Kenapa membawa cowek dan ulek-ulek? Dua orang ini menjawab kompak: "Kami tak biasa hidup instan dan makan instan. Kami senang yang prosenya alami walau agak lama. Mendapatkan istri saya saja dulu memakai proses yang alami." Kami tertawa mengangguk setuju. Namun tahukah makna instan dan alami versi mereka? Hahaaa, ini lebih lucu lagi. Salam, AIM. [*]

Komentar

x