Find and Follow Us

Sabtu, 21 September 2019 | 10:24 WIB

Dua Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Sabtu, 10 Agustus 2019 | 07:00 WIB
Dua Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah
Puasa Tarwiyah dan Arafah - (Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

PUASA sunah yang dilaksanakan pada hari Arafah, yakni tanggal 9 Zulhijah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Adapun teknis pelaksanaannya mirip dengan puasa-puasa lainnya.

Keutamaan puasa Arafah ini bisa disimak antara lain dalam hadis yang diriwayatkan Abu Qatadah rahimahullah, Rasulullah bersabda:

"Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas" (HR Muslim).

Sementara puasa Tarwiyah dilaksanakan pada hari Tarwiyah, yakni pada tanggal 8 Zulhijjah (kemarin). Ini didasarkan pada satu redaksi hadis yang artinya bahwa puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun. Dikatakan hadis ini dhaif (kurang kuat riwayatnya) tapi para ulama memperbolehkan mengamalkan hadis yang dhaif dalam kerangka fadla'ilul amal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadis yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah akidah dan hukum.

Lagi pula hari-hari pada sepersepuluh bulan Zulhijjah adalah hari-hari yang istimewa. Abnu Abbas r.a meriwayatkan Rasulullah s.a.w bersabda:

"Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah, daripada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah. Para sahabat bertanya: 'Ya Rasulullah, walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah, 'Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian kembali tanpa membawa apa-apa." (HR Bukhari)

Puasa Arafah dan Tarwiyah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan oleh para jemaah haji yang sedang menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Sebagai catatan, jika terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan Zulhijjah antara pemerintah Arab Saudi dan Indonesia, maka umat Islam Indonesia melaksanakan puasa Arafah dan Tarwiyah sesuai dengan ketetapan pemerintah setempat. Ini didasarkan pada perbedaan posisi geografis semata.

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadis Qudsi: Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun. (HR Bukhari Muslim). [nuo/Anam)

Komentar

Embed Widget
x