Find and Follow Us

Minggu, 15 September 2019 | 21:16 WIB

Mat Kelor Berhaji Lagi (4)

Antara Eropa dan Arofah

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Jumat, 9 Agustus 2019 | 03:30 WIB
Antara Eropa dan Arofah
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

SAYA tertidur di sofa panjang lantai dasar hotel, saat Mat Kelor menerima kunjungan dari beberapa jamaah haji reguler yang sempat bertemu dengannya di Masjidil Haram kemarin.

Samar-samar saya mendengar diskusi mereka tentang tanah suci ini. Mat Kelor agak mendominasi diskusi itu karena ini adalah haji kedua baginya, sementara bagi mereka adalah haji pertama kali. Mereka para tamu itu memang berharap cerita dari Mat Kelor.

"Puncak haji itu Arofah. Meski namanya mirip, Arofah tak memiliki kaitan apa-apa dengan Eropa. Kalau Eropa terkenal sebagai rujukan hal berbau keduniaan, Arofah terkenal sebagai rujukan hal bekaitan akhirat. Tak sah haji tanpa wuquf di Arafah," demikian isi petuah Mat Kelor. Iya, Arofah dan Eropa terkenal dalam bidangnya masing-masing.

Seorang tamu mengeluarkan foto-foto titipan keluarganya utuk ditanam di tanah Arofah biar bisa berangkat haji. Dia meminta fatwa dari Mat Kelor. Tamu satunya lagi membawa tiga pucuk surat kepada malaikat agar ditanam juga di Arofah agar hajat berhaji dan berumrohnya terkabul. Ini juga menunggu fatwa Mat Kelor. Entah dari mana asal muasal kebiasaan ini. Saya sebut kebiasaan karena memang setiap tahun ada yang melakukan hal yang sama. Mat Kelor terdiam lama sambil melirik pada saya yang tetap pura-pura nyenyak tidur.

Mat Kelor bercerita bahwa banyak orang Indonesia yang sengaja meninggalkan beberapa barangnya di tanah suci ini sambil berkata: "Ya Allah, izinkan aku mengambil barang ini tahun depan." Cara ini dipercaya sebagai salah satu cara jitu bisa umroh atau haji tahun berikutnya.

"Musim haji kemarin," lanjut Mat Kelor, "saya tinggal sarung merah dan kopiah hitam nasional saya di tenda Arofah sambil mengucapkan hal yang sama. Lalu dua hari kemudian, di area Mina saya ketemu sarung dan kopiah saya sedang dipakai orang kulit hitam pembongkar tenda." Mat Kelor tertawa, saya pun tertawa bangkit dari sofa.

Mat Kelor kini berangkat haji lagi adalah berkah usaha kerasnya bersama timnya mengkaji, mengolah dan memasarkan kelor (moringa) sebagai nutrisi penyembuh ajaib beberapa penyakit. Telah terbukti secara penelitian ilmiah. Saya sendiri menjadi saksinya. Silahkan baca penelitian khasiat kelor atau moringa ini. Luar biasa. Sementara berdasarkan penelitian kami yang sudah terbit di jurnal scopus internasional, kelor terbaik adalah kelor madura, kelor yang dikelola Haji Mat Kelor. Mau bukti? Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x