Find and Follow Us

Minggu, 18 Agustus 2019 | 12:15 WIB

Jangan Campuradukkan Iman dengan Kezaliman

Rabu, 7 Agustus 2019 | 09:00 WIB
Jangan Campuradukkan Iman dengan Kezaliman
(Foto: Ilustrasi)

MENURUT Ibn Mandzur, syirik adalah menyekutukan Allah dalam hal ketuhanan, yakni menuhankan zat lain selain Allah, padahal tidak ada yang mampu menyamai Allah subhanahu wataala. (Lihat: Jamal al-Din Ibn Manzur, Lisan al-Arab, [Beirut: Dar al-adr, 1414 H], j. 10, h. 448)

Sedangkan menurut Ibn Asyur (w. 1393 H), syirik adalah menyekutukan Allah dengan hal lain dalam perkara ketuhanan dan ibadah. (Lihat: hir Ibn Asyr, al-Tarr wa al-Tanwr, [Tunis: al-Dr al-Tnsiya li al-Nasyr, 1984 M], j. 7, h. 333.)

Ibn Mandzur menambahkan dengan mengutip kaul Abu al-Abbas, bahwa syirik bukan berarti hanya menyembah selain Allah dan meninggalkan Allah. Yang dimaksud syirik adalah menyembah Allah dan sesembahan lain selain Allah. Atau dalam bahasa lain, menduakan Allah.

Hal ini bisa dilihat dari firman Allah subhanahu wataala dalam QS Al-Anam ayat 82:

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman."

Ketika ayat ini disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada para sahabat, mereka heran. Mereka merasa bahwa mereka tidak bisa terlepas dari perilaku zalim. Mendengar hal itu, kemudian Rasul mengatakan, "tidak itu, yang dimaksud zalim dalam ayat ini adalah sebagaimana pesan Luqman kepada putranya, Innasy syirka la dzulmun adzm (QS Luqman: 13), yaitu syirik." (Lihat: hir Ibn Asyr, al-Tarr wa al-Tanwr, [Tunis: al-Dr al-Tnsiya li al-Nasyr, 1984 M], j. 7, h. 155.)

Dari hubungan kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa syirik bukanlah berpaling dari Allah menuju tuhan lain selain Allah, melainkan menduakan Allah atau menganggap zat lain sama dan memiliki persamaan dengan Allah.

Dalam Alquran, kata syirik dan derivasinya ditemukan sebanyak 168 kata dengan 63 kata yang berbeda. (Lihat: Muammad Zaki Muhammad Khadr, Mujam Kalimt al-Qurn al-Karm, [t.k: t.p, 2012], j. 15, h. 3.)

Namun tidak semua derivasi kata syirik tersebut menjelaskan syirik sebagaimana yang dimaksud dalam definisi di atas. Al-Raghib al-Asfahn hanya menyebutkan 11 ayat yang berkaitan dengan syirik kepada Allah dan membaginya menjadi dua bagian:

Pertama, ayat-ayat yang menjelaskan syirik besar (al-syirk al-adhim), seperti QS Al-Nis: 48 dan 116, QS Al-Maidah: 72, QS Al-Mumtahanah: 12, dan QS Al-Anam: 148.

Kedua, ayat-ayat yang menjelaskan syirik kecil: QS Al-Araf: 190, QS Ysuf: 106, QS Al-Kahf: 110, QS Al-Taubah: 5 dan 30, dan QS Al-j: 17. (Lihat: Al-Rghb al-Asfahn, Mufradt Alfdz al-Qurn, [Beirut: al-Dr al-Syamiyyah, 2009 M], h. 452-453.)

Dari 10 ayat tentang syirik di atas, menunjukkan bahwa syirik dalam Alquran selalu berkaitan dengan tiga hal.

Pertama, kafir. Yakni tidak menyembah Allah subhanahu wataala dan berislam, melainkan beragama Yahudi, Nasrani dan agama-agama lain di luar Islam, sebagaimana tercantum dalam QS Al-Hajj: 17, al-Taubah: 5, al-Anam: 148, dan al-Maidah: 172. Walaupun demikian kategori pertama ini tidak bisa serta merta diperangi, kecuali kafir yang memerangi muslim terlebih dahulu.

Kedua, menyekutukan Allah subhanahu wataala. atau menyembah, meminta dan menghamba kepada hal lain selain Allah. Sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Nisa: 48 dan 116, dan QS Al-Mumtahanah: 12.

Ketiga, riya dalam beribadah. Yakni beribadah tidak semata-mata diniatkan karena Allah subhanahu wataala. melainkan karena orang lain. Syirik ini disebut oleh Rasul sebagai syirik kecil, yakni syirik yang bisa terjadi ke semua muslim. Sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Kahf: 110.

Keempat, terlena dengan nikmat yang diberikan oleh Allah subhanahu wataala dan lupa bersyukur kepada Allah subhanahu wataala. Sebagaimana kisah Nabi Adam dan Hawa yang memiliki putra namun lupa bersyukur, sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Araf: 190. Juga lupa kepada Allah saat bahagia, dan baru ingat kepada Allah saat sengsara, sebagaimana disebutkan dalam QS Ysuf: 106. [nuol]

Ustaz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadis, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah

Komentar

x