Find and Follow Us

Minggu, 18 Agustus 2019 | 12:27 WIB

Mat Kelor Berhaji Lagi (2)

Memaknai Kain Ihram

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Rabu, 7 Agustus 2019 | 03:30 WIB
Memaknai Kain Ihram
(Foto: Inilahcom)

UMROH tadi pagi terasa berbeda bagi Mat Kelor. Dia menjadi pendiam, sepertinya merenungkan sesuatu. Saat berthawaf, kedua matanya berkaca-kaca, lalu disembunyikannya di balik kaca mata hitam yang segera dipakainya.

Setelah thawaf dan shalat sunnat thawaf, saya berbisik bertanya ada apa. Dia menjawab bahwa dia memikirkan tujuan di balik kain ihram, mengapa memakai putih-putih semua, mengapa tidak ada yang memakain kain batik atau kain warna warni atau bergambar. Mat Kelor kadang memang memikirkan yang tidak dipikirkan banyak orang. Bolehkah ihram memakai kain batik tak berjahit?

"Saat dipakai sebagai kain kafan, putih menakutkan. Saat dipakai sebagai kain ihram, putih dirindukan. Ternyata, warna itu memiliki makna tergantung siapa yang menggunakan dan untuk apa," bisik Mat Kelor sambil menatap Ka'bah. Saya tepuk pundaknya untuk melanjutkan prosesi ke tempat sa'i. Saya berpikir bahwa semenjak haji tahun kemarin dan menjadi ketua takmir masjid, Mat Kelor semakin cerdas saja. Iya, semakin dekat kepada Allah, semakin saja Allah mudahkan memahami syari'at Allah.

Saat putaran pertama sa'i tangan Mat Kelor ditarik keluar rombongan oleh seorang kakek tua berbaju batik dan bersarung coklat tua. Saya sendiri tak tahu siapa kakek tua itu, sepertinya jamaah haji reguler Indonesia. Saya sempatkan memfoto beliau karena aneh saja peristiwa ini bagi saya. Saat lihat hasil foto dan kuingin foto kembali, kakek itu pergi dan Mat Kelor bersa'i kembali. Saya tanya Mat Kelor tentang siapa kakek itu, dia menjawab tidak tahu. Saya tanya membisikkan apa dia, Mat Kelor menjawab begini:

"Kata kakek tadi, kain ihram kita ini memberikan dua pelajaran penting yang harus menjadi prinsip hidup pasca haji, yaitu kesederhanaan dan kesamaan derajat manusia. Kata kakek, orang yang berlebih-lebihan dan menyombongkan diri setelah haji adalah orang yang hajinya tertolak (mardud)."

Saya sebagai dosen Maqasid di Pascasarjana UINSA terkesima kagum pada penjelasan semenit si kakek kepada Mat Kelor. Ingin sekali saya mencarinya untuk bertemu dan berguru hati pada beliau. Sederhana itu perlu, sikap hidup egaliter itu penting. Dengan dua nilai ini, persatuan dan kebersamaan akan mudah dibangun. Berbahagianya Indonesia jika semua jamaah hajinya menggapai haji mabrur. Semoga menjadi haji mabrur dan semoga yang belum berhaji segera bisa berhaji. Doakan saya bertemu kakek itu. Salam, AIM. [*]

Komentar

x