Find and Follow Us

Minggu, 18 Agustus 2019 | 12:22 WIB

Diskusi Ringan Reuni Anak Kampus

Senin, 22 Juli 2019 | 00:08 WIB
Diskusi Ringan Reuni Anak Kampus
(Ilustrasi)

KEMARIN siang berkumpullah teman-teman kuliah dulu di kantor saya, melepas kangen karena telah lama tak bersua. Rata-rata wajahnya masih stabil muda, tak kelihatan menua walau mereka disibukkan dengan berbagai kegiatan. Ada yang menjadi assesor, kaprodi, sekprodi, peneliti kawakan dan lainnya.

Rahasia awet muda, kata mereka, adalah membiarkan hati tak sibuk dengan dunia walau badan disibukkan dengan urusan dunia. Motto yang cukup manis. Terimakasih atas kerawuhannya Pak Ahmad Hafidh, Pak Basith Junaidy, Pak Khatib, Pak Khalis, dan Pak Lathoif atas kunjungannya.

Perbincangan bermula dari hal sepele yang berkaitan dengan kampus, betapa efektifitas, efisiensi dan fleksibilitas menjadi bagian penting dari kampus yang terus ingin maju. Teringatlah saya pada ulasan tentang birokrasi yang baik dan demokratis menurut Samuel Huntington yang sangat terkenal itu. Dunia kampus harus maju cepat secepat perkembangan masyarakat. Daftar rujukan, bacaan para dosen, harus semakin banyak dan up to date kalau tidak ingin dijuluki dosen peninggal kolonial yang terlambat lahir. Ngeri juga kesimpulannya, bukan?

Aksi copy-paste, apalagi tanpa verifikasi kebenarannya, lalu menyebarkannya ke ruang publik adalah sama hinanya dengan plagiarisme. Menuliskan ide sendiri, walau sangat sederhana, adalah jauh lebih bermakna secara akademis ketimbang copy-paste barang hoax atau tak jelas. Bagi akademisi, penggunaan landasan teori ilmiah dalam perbincangan sangatlah penting. Demikian salah satu kesan yang saya dapakan dari obrolan yang sarat dengan teori sosial politik.

Kami tertawa terbahak-bahak saat diskusi bergeser pada urusan yang lebih besar, yakni banyaknya regulasi, peraturan di negeri ini. Pak Hafidh yang jago penelitian sosial itu berkata: "Sebanyak apapun regulasi, selalu saja ada jalan untuk mengkhianati." Bagi saya, makna kalimat ini sangatlah dalam, yakni bahwa selama ada niat busuk, selalu saja ada cara untuk "mengakali" aturan. Kunci dari keteraturan adalah kondisi hati yang teratur.

Bergeserlah obrolan kami pada calon-calon anggota kabinet yang akan dipilih Pak Presiden. Ternyata banyak sekali yang berminat dilihat dari jumlah daftar nama yang akan diajukan oleh partai-partai. Sebagai akademisi, kami berdoa semoga yang terpilih adalah orang-orang yang memiliki idealisme yang baik, berniat tulus untuk membangun bangsa menuju kedamaian dan kebahaiaan.

Akhirnya, kami ngakak kembali setelah saya kutip kata-kata lama: "kepala boleh idealis, namun lihat saja, perutnya sangat mungkin masih kapitalis." Pertemuanpun bubar, dan kamipun berjanji untuk bertemu kembali. Salam, AIM, tuan rumah. [*]

Komentar

x