Find and Follow Us

Minggu, 25 Agustus 2019 | 15:58 WIB

Menata Hati untuk Menjadi Manusia Penuh Ridho

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Kamis, 18 Juli 2019 | 00:04 WIB
Menata Hati untuk Menjadi Manusia Penuh Ridho
(Ilustrasi)

KATA ridho adalah kata yang sering kali diungkap saat ada musibah atau ujian besar yang dihadapi. Mereka yang penuh ridho akan mampu melewati tahapan-tahapan hidup dengan sukses dan bahagia. Namun, bagaimanakah sesungguhnya ridho itu dan sudahkah kita memiliki hati yang penuh ridho?

Dalam kitab "Madari al-Salikin" jilid 2 dijelaskan dengan detail tentang definisi dan indikator ridho ini. Sangat panjang uraiannya, dan kali ini saya ambilkan beberapa bagian saja. Saya tertarik untuk berbagi penjelasan di halaman 179-180 tentang syarat-syarat ridho. Menurut Ibnu Qayyim, penulis kitab ini, tidaklah sah ridho ini tanpa memenuhi 3 syarat:

Pertama adalah "an yakuuna Allah 'azza wa jallaa ahabba al-asyya' ilaa al-'abd," yakni bahwa Allah menjadi Dzat yang paling dicinta. Cinta kepada selainnya haruslah menjadi pengikut cinta kepadaNya. Cinta yang mengikuti adalah cinta yang tidak melampaui cinta kepadaNya, cinta yang hadir karena cinta kepadaNya. Dengan syarat yang pertama ini, maka tertutuplah munculnya cinta yang terlarang.

Kedua adalah "wa awlaa al-asyya' bi al-ta'dzim," yakni menjadikan Allah sebagai yang paling prioritas untuk diagungkan. Ada banyak manusia yang mengagungkan pangkat jabatan sebagaimana juga mengagungkan harta kekayaan. Tanda-tandanya adalah yang diperbincangkan dan diperhatikannya selalu saja berkaitan dengan yang diagungkan itu.

Demi yang diagungkan, biasanya seseorang siap melakukan apa saja asal bisa mendapatkannya. Seringkah kita berbincang tebtang Allah dengan segala karuniaNya? Selalukah kita melakukan apapun demi menggapai cinta dan kasih sayangNya?

Ketiga adalah "wa ahaqqa al-asyya' bi al-thaa'ah," yakni yang paling berhak untuk ditaati. Manusia penuh RIDLA adalah manusia yang memiliki ketaatan penuh kepadaNya dan tak mau taat kepada selainNya jika harus menyalahi ketaatan kepadaNya.

Pada bagian ini Ibnu Qayyim menyimpulkan bahwa siapa saja yang tak memiliki tiga sifat tersebut di atas maka dia termasuk orang "mutakabbir" (sombong), dan siapa yang membersamakan (dalam derajat yang sama) cinta, ta'dzim, dan ketaatan kepada Allah dengan cinta, ta'dzim dan ketaatan kepada selainNya maka dia termasuk orang musyrik. "Muwahhid" atau ahli tawhid yang sesungguhnya adalah mereka yang ketiga hal di atas betul-betul menjadi yang pertama dan utama dalam hidupNya sehingga apapun yang dari Allah dierimanya dengan senang dan tenang hati.

Pertanyaannya adalah bisakah sikap ridho ini diusahakan ? Ataukah sikap ridho ini adalah pemberian Allah kepada orang yang dikehendakiNya? Ini pertanyaan lain yang perlu pembahasan lain, bagaimana cara menjadi ridho. Salam bahagia, AIM, Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*]

Komentar

x