Find and Follow Us

Kamis, 18 Juli 2019 | 07:33 WIB

Hakikat Kemuliaan Diri Sebagai Manusia

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Senin, 1 Juli 2019 | 00:04 WIB
Hakikat Kemuliaan Diri Sebagai Manusia
(Foto: ilustrasi)

DIA memang sangat ditakuti di negeri ini. Dia menganggap bahwa semua karena wibawa dirinya yang sangat kuat. Padahal sesungguhnya, takutnya banyak orang kepadanya adalah karena ketegaannya memenjarakan semua orang yang berseberangan dengan dirinya.

Hormatnya banyak orang kepadanya bukanlah karena ada cinta, kekaguman dan ketundukan melainkan karena ketakutan dan keengganan berurusan dengannya. Sebuah penghormatan palsu.

Saat kucing sang pejabat ini mati, begitu banyak karangan bunga bela sungkawa yang berjejer di depan rumah dan kantornya. Dia semakin merasa bahwa dirinya benar-benar orang besar. Beberapa waktu yang lalu, saat dia sendiri yang meninggal dunia, ternyata tak banyak orang yang mengirimkan ucapan bela sungkawa. Sedikit sekali dan tak sebanyak karangan bunga kematian kucingnya.

Beginilah nasib orang yang ditakuyi dan dihormati bukan karena KEMULIAAN DIRINYA, melainkan karena KEMULIAAN KURSI JABATANNYA. Kemuliaan diri itu abadi, kemuliaan kursi jabatan itu hanyalah saat diduduki sahaja.

Adakah koran dan media sosial mengabarkan kewafatan sang pejabat ini? Iya, banyak sekali, namun rata-rata berisikan sindiran dan ungkapan puji syukur. Ada satu koran yang di pojok kiri bawah halaman pertamanya menuliskan: "Saat gajah itu mati, para semut berpesta di atas bangkainya." Sungguh sebuab sindiran sadis, bukan?

Tugas kita sesungguhnya adalah menjada kemuliaan diri kita sebagai manusia yang Allah berikan kepada kita yang kita kenal dengan kata martabat diri, harga diri, human dignity, dan istilah semacamnya. Cara terbaiknya adalah dengan selalu menebarkan cinta kepada dan berbagi makna dengan orang lain, sebanyak mungkin; bukan dengan menebarkan ancaman dan ketakutan pada orang lain.

Beberapa hari kemudian pasca kematian sang pejabat itu, seorang kiai kampung kembali pulang ke rahmat Allah. Kewafatannya tak banyak diliput media karena memang beliau bukan pejabat publik. Namun mulut orang-orang yang selalu dilayani dan dikunjunginya melalui pengajian rutinnya ternyata tak berhenti berucap bela sungkawa. Air mata mereka menetes dan kaki mereka melangkah menuju rumah sang kiai kampung ini.

Berhari-hari jamaah berkumpul memenuhi halaman rumah dan pondok beliau untuk memanjatkan doa. Memang tak ada karangan bunga, namun bunga cinta dan pelayanan yang ditanamkan beliau semasa hidup kepada setiap orang tang berjumpa dengannya tetap tumbuh mekar di hati banyak orang. Inilah kemuliaan diri yang sesungguhnya.

Benar John Izzo yang menyatakan bahwa manfaat hidup yang kita persembahkan kepada orang lain adalah penentu kemuliaan dan kehormatan kita. Benar juga kajian Marianne Williamson yang berkata bahwa hanya ada dua hal yang perlu kita miliki untuk menjadi manusia mulia nan bahagia: cinta dan kemanusiaan. Buanglah keinginan untuk bahagia sendiri, bahagialah bersama-sama. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x