Find and Follow Us

Minggu, 18 Agustus 2019 | 18:31 WIB

Kisah di Balik "Demonya" Para Istri Nabi

Rabu, 26 Juni 2019 | 15:00 WIB
Kisah di Balik
(Foto: ist)

HAFSAH binti Umar bin Khatab terkenal sebagai seorang yang showwamah (rajin shaum) dan qowwamah (rajin berdiri qiyamul lail). Ibunya Zainab binti Madz'un. Saudara dari sahabat besar Utsman bin Madz'un. Ia saudara kandung Abdullah bin Umar. Seorang yang memahami fikih dan rajin beribadah. Hafsah lahir 5 tahun sebelum kenabian. Ia masuk Islam dan menikah dengan seorang sahabat besar Khunais bin Hadzafah bin Qais. Khunais hijrah ke Habasyah ditemani Hafsah kemudian kembali ke Makkah dan hijrah ke Madinah bersama-sama. Khunais turut dalam perang Badar dan perang Uhud dan ia syahid di sana.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menikahi Hafsah. Dan ia menjadi istri nabi bersama Saudah dan Aisyah. Kemudian setelahnya menyusul istri-istri yang lain. Suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memakan madu di rumah Zainab binti Jahsy. Hafsah dan Aisyah sepakat untuk mengatakan sesuatu jika bertemu dengan Rasulullah dihari bagian mereka. Mereka akan mempertanyakan seolah ada yang aneh dari diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

"Bau apa ini ya Rasulullah, baunya tidak sedap. Apa yang kau makan?." Rasul menjawab: "Aku meminum madu di rumah Zainab." Hafsah berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya madu itu telah berjamur." Dan ketika Rasulullah datang ke rumah Zainab, beliau minta madu itu dijauhkan. Aisyah berkata: "Demi Allah, aku menyadari bahwa kami membuat suatu urusan yang besar. Kami melarang Rasulullah dari sesuatu yang beliau inginkan."

Hafsah seorang yang banyak beribadah dan salat tahajud. Oleh karenanya dikenal dengan showwamah qowwamah. Suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbincang dengan Mariyah di rumah Hafsah. Ketika Hafsah pulang dari rumah ayahnya dan Mariyah bergegas pergi, Hafsah menangis sejadi-jadinya. Ia berkata kepada Rasulullah: "Kalaulah engkau tidak merendahkanku, engkau tidak akan mengajaknya ke rumahku." Rasulullah merayunya dan meminta keridaannya. Beliau menegaskan bahwa Mariyah adalah mahramnya dan memiliki keperluan untuk bertemu dengannya. Rasulullah meminta Hafsah untuk tidak membicarakan peristiwa itu kepada siapapun. Akan tetapi ketika Hafsah bertemu Aisyah, ia menceritakannya. Maka dampaknya adalah para istri nabi berdemo meminta agar Mariyah tidak tinggal di Madinah. Kemudian Rasulullah menyendiri meninggalkan istri-istrinya dan beliau menyampaikan bahwa beliau memutuskan komunikasi dengan mereka semua. Dan tersiarlah kabar bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menceraikan Hafsah dan istri-istrinya.

Ketika Umar mendengar berita ini, ia menangis seraya berkata: "Betapa besar aib Umar dan putrinya di hadapan Allah Ta'ala." Keesokan harinya Jibril turun menemui Rasulullah dengan membawa wahyu: "Kembalilah kepada Hafsah. Sesungguhnya ia showwamah dan qowwamah. Dan ia adalah istrimu di surga." Umar menemui Rasulullah dan berkata: "Wahai Rasulullah, janganlah engkau sempit dengan urusan kaum perempuan. Jika engkau menceraikan mereka, sesungguhnya Allah dan para malaikat, Jibril dan Mikail, aku dan Abu Bakar serta semua kaum muslimin berada bersamamu." Rasululah berkata: "Beri aku waktu untuk meninggalkan selama satu bulan." Maka Umar bergegas menuju masjid dan mengumumkan bahwa Rasulullah tidak menceraikan istri-istrinya. Dan turunlah ayat:

"Dan ingatlah ketika secara rahasia Nabi membicarakan suatu peristiwa kepada salah seorang istrinya (Hafsah) Lalu dia (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan peristiwa itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepadanya (Nabi), lalu (Nabi) memberitahukan (kepada Hafsah) sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain. Maka ketika dia (Nabi) memberitahukan pembicaraan itu kepadanya (Hafsah), dia bertanya, "Siapa yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab, "Yang memberitahukan kepadaku adalah Allah Yang Maha Mengetahui lagi Mahateliti." Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh, hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan; dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, Maka sesungguhnya Allah menjadi Pelindungnya dan (juga) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain itu malaikat-malaikat adalah penolongnya. Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh Jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu, perempuan-perempuan yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan." (QS At Tahrim: 3-5)

Hikmah kehidupan:

- Cemburu adalah fitrah kaum perempuan. Kaum perempuan perlu belajar mengelola cemburunya.
- Setiap muslim perlu memiliki amal unggulan, yang membuatnya terkenal dikalangan malaikat. Bila Hafsah showwamah qowwamah, maka apakah gelar yang layak bagi kita?
- Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghargai dan memahami sikap manusiawi para istrinya selagi tidak berlebihan.
- Berlaku adil itu sangat sulit. Bahkan untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
- Di antara hal yang harus diwaspadai adalah jika para perempuan bersekutu dalam keburukan.
- Umar menegaskan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah menceraikan istri-istrinya.
- Ketika berada pada pilihan Allah dan RasulNya atau keluarga, seorang mukmin yang tangguh tetap memilih Allah dan RasulNya.
- Tidak semua hal dalam keluarga bisa disampaikan kepada orang lain. Hal-hal tertentu perlu disimpan rapat. Cukup suami istri saja yang tahu.
- Saling percaya dan terus menjaga kepercayaan adalah modal besar dalam mengarungi kehidupan berkeluarga.

Wallohu a'lam bis showwab. [Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag]

Komentar

x