Find and Follow Us

Kamis, 18 Juli 2019 | 07:52 WIB

Dunia Terus Berubah, Pemikiran Terus Bergeser

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Minggu, 23 Juni 2019 | 00:01 WIB
Dunia Terus Berubah, Pemikiran Terus Bergeser
(Ilustrasi)

KEHEBOHAN sistem zonasi dalam dunia pendidikan Indoneaia benar-benar fenomenal. Semua rakyat memperbincangkannya, semua pakar berkomentar atasnya. Selalu saja ada perubahan sistem atau model pendidikan di negeri kita ini.

Sepertinya kebanyakan kita tunduk patuh secara total akan keniscayaan perubahan dalam perjalanan sejarah. Positifkah atau negatifkah? Tergantung siapa yang berbicara dan berada dalam posisi apa.

Diberlakukannya sistem zonasi pendidikan ini sebagai sebuah perubahan tentunya berefek besar pada dimensi kehidupan pada bidang lain. Kalau jaman Rasulullah, zona rumah yang paling diminati adalah yang dekat dengan masjid favorit, lalu pada masa berikutnya adalah rumah yang zonanya dekat dengan pusat belanja terdekat, maka kini adalah zona yang paling dekat dengan sekolah favorit. "Harga rumah yang dekat dengan sekolah favorit kini akan merangkak naik," kata pakar arsitek Azkia Avenzoar.

Saya, dalam tulisan ini, tidak melibatkan diri dalam diskusi untung rugi, plus minus, serta perdebatan lainnya berkenaan dengan sistem zonasi itu. Namun saya cuma ingin mengatakan bahwa perubahan sistem ini memiliki dampak dahsyat pada pergeseran pemikiran manusia.

Tak dapat dibantah bahwa revolusi kognitif telah mengantarkan manusia modern pada kesadaran pentingnya pendidikan yang profesional. Saat kehendak mereka mendapatkan akses pendidikan bagus terhalang atu bahkan tertutup karena faktor yang tidak sangat fair dan masuk akal tentu saja akan memantik letupan emosi.

Tentu saja ada yang tersenyum dengan perubahan kebijakan dunia pendidikan ini. Namun jumlah orang yang kaget dan kecewa sepertinya lebih banyak jika dinilai dari nyaringnya suara sekitar yang kita dengar. Dunia memang tak pernah sepi dari persandingan senyum dan tangis serta utung dan buntug.

Pak RT yang kebetulan seorang ustadz berkata: "Ya, beginilah hidup. Selalu berubah. Untung saja anak saya tinggal dan bersekolah di pondok pesantren sehingga aman dari dampak zonasi. Jangan-jangan nanti juga akan dizonasi ya?"

Pak RW yang kebetulan adalah pengamat tanah kuburan berkata: "Sebenarnya sistem zonasi ini sudah lama diterapkan pada dunia perkuburan. Orang yang meninggal hanya boleh dikuburkan di zonasi kuburan terdekat. Jadi ini adalah untuk orang meninggal yang memang sudah tidak bisa pindah-pindah lagi. Ini tidaklah cocok diterapkan pada sistem pendidikan orang hidup yang "mobile" dan memiliki preferensi pendidikan yang tak seragam."

Akankah harga rumah yang dekat kuburan akan merangkak naik juga jika sistem zonasi kuburan diperketat seketat kebijakan zonasi pendidikan? Kita lihat saja arah pergeseran pemikiran manusia. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x