Find and Follow Us

Kamis, 18 Juli 2019 | 08:00 WIB

Asal Usul Hui, Kaum Muslim Terbesar di Tiongkok

Rabu, 19 Juni 2019 | 13:00 WIB
Asal Usul Hui, Kaum Muslim Terbesar di Tiongkok
(Foto: Istimewa)

Dilansir dari alif.id, Hui adalah salah satu kaum minoritas terbesar di China dengan populasi cukup besar yaitu 9.816.802 jiwa. Orang Hui dapat dijumpai di seluruh kota di negeri China, terutama di Daerah Otonomi Hui Ningxia, Propinsi Gansu, Propinsi Qinghai, Propinsi Henan, Provinsi Hebei, Propinsi Shandong, Propinsi Yunnan dan Daerah Otonomi Uygur Xinjiang. Lantas seperti apa sejarah keislaman mereka?

Nama Hui adalah singkatan dari Huihui. Nama ini pertama kali muncul dalam literatur Dinasti Song Utara (960-1127). Nama ini merujuk pada orang- orang Huihe. Mereka tinggal di Anxi yang di masa kini Xinjiang. Daerah ini menjadi tempat mereka sejak Dinasti Tang (618-907).

Pada awal abad ke-13 pasukan Mongolia melakukan ekspedisi militer ke barat dan menaklukan orang-orang Asia Tengah, Persia dan Arab beragama Islam. Maka, orang-orang Islam dipaksa hijrah ke China oleh maharaja Mongol. Pedagang, cendekiawan, birokrat, dan pemimpin agama, menyebar ke banyak daerah dan menetap di daerah gembala ternak. Orang-orang ini juga disebut Huis atau Huihuis. Mengapa?

Karena, agama mereka identik dengan orang-orang di Anxi, Xinjiang di masa kini. Mereka adalah Leluhur Hui di masa kini .

Di sisi lain, pada abad ke-7, orang-orang Arab dan Persia datang ke China untuk berdagang. Beberapa dari Mereka menetap di kota-kota pelabuhan atau kota dagang seperti Guangzhou, Quanzhou , Hangzhou, Yangzhou dan Changan sekarang Xian. Orang China menyebut mereka sebagai fanke. Artinya tamu dari daerah yang sangat jauh.

Mereka membangun masjid dan pemakaman muslim. Sebagian menikah dan memiliki anak. Anak-anak mereka kemudian dikenal sebagai tusheng Fanke. Artinya, tamu asing yang lahir di China. Atau tamu asing kelahiran China. Pada masa Dinasti Yuan (1271-1368) mereka menjadi bagian dari Huihuis, orang-orang Asia Tengah yang hijrah ke China dalam jumlah besar.

Karena itu, orang Hui muslim di China adalah suku bangsa minoritas punya asal-usul dari dua golongan di atas. Yakni, kaum muslimin Asia Tengah, Persia, dan Arab yang dipaksa pindah oleh tentara Mongol dan kaum muslimin dari Arab dan Persia yang berdagang ke China. Kedua golongan ini kemudian kawin campur dengan berbagai etnis di China seperti etnis Han mayoritas dan etnis mongol dan kemudian mengikuti kebudayaan China dan berbahasa China namun tetap beragama Islam.

Huihui sebagai kebudayaan yang utuh dimulai pada masa Dinasti Yuan. Perang dan pertanian dua faktor dominan. Selama invasi ke barat, bangsa Mongol memaksa orang-orang Asia Tengah menjadi pasukan pengintai dan membawa mereka masuk ke dalam kompi militer dalam penyerbuan ke China.

Para pengintai sipil menjadi pasukan militer. Mereka wajib menetap di berbagai lokasi sambil menggembala ternak untuk menjaga logistik tempur. Mereka mendirikan pemukiman di Gansu, Henan, Shandong, Hebei dan Yunnan dan Ningxia Hui.

Seiring berjalannya waktu mereka menjadi petani dan pengrajin dan pedagang. Mayoritas dari mereka menetap di kota-kota dan di sepanjang jalur komunikasi vital.

Orang Hui ada di semua belahan kota di China. Mereka berkumpul dalam satu pemukiman dengan masjid sebagai titik pusat kegiatan sosial dan politik. Dan, ini menjadi fitur spesifik distribusi populasi Hui di China.

Pasukan pengintai Hui dan juga aristokrat, ulama dan pedagang Hui yang dibawa oleh tentara Mongol ke daerah timur, dalam usaha menguasai China, tidak bersikap pasif namun bergerak sangat aktif dalam dunia politik.

Mereka memiliki pengaruh dan tampil menonjol dalam pendirian kekuasaan Mongol di China. Dalam sejarah China, era Mongol disebut sebagai era Dinasti Yuan.

Orang Hui punya pengaruh besar di bidang militer, politik dan ekonomi. Keterlibatan kelas atas Hui dalam Dinasti Yuan memengaruhi perkembangan Kebudayaan Hui di pelbagai bidang.

Secara umum, posisi sosial Huihuis selama Dinasti Yuan lebih tinggi dari pada posisi Suku Bangsa Han atau suku terbesar di China.

Namun mereka masih tetap menjadi sasaran penindasan oleh pejabat Mongolia. Mereka tetap menjadi bawahan pejabat Mongol. Baik sebagai gembala atau sebagai pengrajin pemerintah dan tentara. Sebagian kecil dari mereka bahkan menjadi budak dan pelayan di istana-istana bangsawan Mongol.

Karena hijrah dan berdiam di daerah dengan sistem sosial, adat istiadat dan kebiasaan yang berbeda, maka orang Hui memperkuat kebudayaan dan keagamaannya.

Orang Hui punya ikatan kuat dengan masjid. Masjid pusat kegiatan sosial. Orang Hui makin membangun kerja sama ekonomi, sosial, dan agama sesama mereka. Agama Islam menjadi jati diri pokok.

Pada masa Dinasti Ming (1368-1644) Orang Hui tampil sebagai kelompok etnis yang menonjol. Seiring dengan pemulihan dan pengembangan ekonomi sosial secara nasional pada awal Dinasti Ming, distribusi dan status ekonomi populasi Huihui mengalami perubahan drastis. Jumlah Hui di provinsi Shaanxi dan Gansu meningkat karena semakin banyak Hui bergabung dengan Penguasa Ming dan bergerak di sektor pertanian.

Pada masa dinasti Ming, orang-orang Hui aktif di ranah industri dan perdagangan. Mereka juga aktif di dinas militer Dinasti Ming dan ikut dalam operasi militer dan membuka lahan pertanian. Beberapa orang Hui berhasil menjadi Aristokrat dan cendekiawan dalam pemerintaan dinasti Ming. Mereka aktif dalam perjalanan dinas berkeliling China.

Namun, untuk mempertahankan tradisi, mereka mendirikan desa di daerah pinggiran kota atau di sepanjang jalur perdagangan di kota-kota. Pada masa Dinasti Ming, orang Hui menjadi etnis minoritas. Mereka yang tidak kena wajib militer bebas bekerja di lahan pertanian, peternakan, industri kecil atau kerajinan dan perdagangan kecil.

Pada mulanya Hui menggunakan bahasa Arab, Persia. Namun , setelah bertahun-tahun tinggal bersama orang Han, etnis mayoritas China, dan banyak orang Han yang kawin dengan orang Hui dan bergabung dengan barisan mereka, orang Hui akhirnya berbicara bahasa Han, Bahasa Mandarin. Namun tetap mempertahankan kosa kata Bahasa Arab dan Persia.

Budaya Hui dipengaruh budaya Asia Barat dan asimilasi budaya Han. Namun, asimilasi Budaya Han, atau China semakin kuat. Hui semakin mirip orang Han, berbicara dan berbudaya China.

[baca lanjutan]

Komentar

Embed Widget
x