Find and Follow Us

Senin, 18 November 2019 | 11:38 WIB

Sujud pada Presiden dalam Kacamata Islam

Jumat, 14 Juni 2019 | 12:00 WIB
Sujud pada Presiden dalam Kacamata Islam
(Foto: ist)
facebook twitter

PARA ulama membagi sujud menjadi dua macam:

Pertama, sujud ibadah.

Yaitu sujud yang dilakukan dalam rangka menyembah. Artinya, orang yang melakukannya menjadi tunduk dan patuh seperti tunduknya kepada tuhan. Serta meyakini orang yang dia sujudi memiliki sifat-sifat ketuhanan (Rububiyah), seperti mampu mengatur alam, memberi rizki dengan sendiri (tanpa campur tangan Allah) dll.

Sujud jenis ini, hanya boleh ditujukan kepada Allah Taala.

Allah Berfirman: "Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)" (QS.An-Najm: 62)

Siapapun yang melakukan sujud jenis ini kepada selain Allah, dia telah melakukan syirik besar. Pelakunya dihukumi sebagai kafir, keluar dari Islam jika telah terpenuhi syarat-syarat pengkafiran yang intinya ada dua:

[1] Sampainya penjelasan (kebenaran) kepada orang tersebut.

[2] Tidak ada penghalang jatuhnya vonis.

Kedua, sujud penghormatan (tahiyyah).

Sujud yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada seorang, baik karena kedudukan, jabatan, atau status sosial lainnya.

Sujud ini hukumnya diperbolehkan sebelum datang syariat islam. Kemudian islam datang melarangnya.

Hal ini tertuang dalam firman Allah Taala,

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis" (QS.Al-Baqarah: 34)

Kemudian datanglah syariat islam menghapus syariat ini. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abdillah Ibnu Abi Aufa.

"Dari Abdillah Ibnu Abi Aufa berkata: Saat Muadz tiba dari Syam (ke Madinah) maka ia langsung sujud kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

Lantas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, "Apa ini ya Muadz ?"

"Saya telah berkunjung ke negeri Syam, ternyata mendapatkan mereka (orang-orang Nashrani) sujud kepada para pendeta mereka. Maka terbesit dalam hati saya untuk melakukan hal itu terhadap engkau," Jawab sahabat Muadz.

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menanggapi,

" Jangan kalian lakukan seperti ini. Sungguh seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, tentu aku perintahkan para istri untuk sujud kepada suami mereka. Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, wanita itu tidak menunaikan hak Rabb-nya sampai ia menunaikan hak suaminya, dan seandainya ia (sang suami) meminta dirinya untuk melayaninya sedangkan dia (sang isteri) lagi sedang masak maka dia tidak boleh menolaknya." (HR. Ibnu Majah no. 1853)

Orang yang melakukan sujud penghormatan (tahiyyah) ini telah melakukan dosa besar, wajib bertaubat kepada Allah. Namun, ia tidak divonis sebagai kafir menurut pendapat kebanyakan ulama (jumhur).

Syeikh Syihabuddin Ar-Romli rahimahullah menjelasakan,

Sebatas sujud kepada para ulama tidak berarti mengagungkan mereka seperti mengagungkan Allah. Karena mengagungkan Allah berarti menjadikan-Nya sesembahan. Sujud kepada mereka dianggap sebagai kekufuran, jika di dalamnya ada unsur penyembahan.

Wallau Alam bis showab.

[Disadur dari tulisan Fida Abdurrahman (Mahasiswa Muhammad bin Suud University (LIPIA), Fakultas Syariah; Dikoreksi oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc; Konsultasi Syariah]

Komentar

Embed Widget
x