Find and Follow Us

Kamis, 19 September 2019 | 13:47 WIB

Mudah Menyebar Berita Tanpa Tahu Hakikat Kebenaran

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Rabu, 12 Juni 2019 | 00:02 WIB
Mudah Menyebar Berita Tanpa Tahu Hakikat Kebenaran
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

SETIAP bulan Ramadhan, seringkali saya mengadakan acara hiburan keagamaan bagu masyarakat di desa saya. Walau saya tinggal di kota yang jauh dengan desa saya, namun desa tempat saya dibesarkan tetap saja menempati ruang lebar dalam hati saya.

Mayoritas masyarakatnya adalah petani yang cukup lelah dengan pekerjaan mereka di sawah. Untuk menghibur mereka maka di pondok peninggalan orang tua kami diadakan lomba hadrah al-banjari dan tabuh thongthong alias patrol kenthongan. Tak ada biaya pendaftaran untuk lomba ini, proses pelaksanaan banyak dibantu sponsor tunggal roti Esto, sementara hadiahnya adalah total tanggung jawab saya. Demi membeli kebahagiaan masyarakat desa. Desa jadi ramai dan guyub, Ramadhan pun menjadi hidup.

Dalam technical meeting disepakati bahwa ada dewan juri yang akan menilai para peserta. Saat masuk final, maka keputusan akhir ada di tangan saya sebagai penanggung acara. Tentu dengan mempertimbangkan hasil penilaian juri. Tentu pula dengan menghadirkan juri lain yang netral yang tidak dikenal oleh para peserta. Ini adalah demi menghilangkan kemungkinan ada kongkalikong yang tak dikehendaki antara peserta dengan juri lokal. Mengapa? Karena hadiahnya tergolong besar untuk ukuran desa, 2 buah kulkas, 2 TV dll.

Saat final dilaksanakan, juri lokal menyerahkan nilai, juri luar juga menyampaikan nilai kepada saya, maka barulah diumumkan seusai pengajian. Rupanya ada juri lokal yang membocorkan nilainya sendiri seakan menganggapnya sebagai nilai akhir. Ketika pengumuman akhir berbeda dengan yang bocoran tadi, berita kecurangan yang dituduhkan pada saya dan panitia diviralkan di medsos tanpa klarifikasi sebelumnya. (Tidak berpikir apa untungnya saya mau curang sementara saya tidak kenal dengan pesertanya dan semua hadiah dari saya).

Ini adalah potret kecil dari masyarakat kita kini: mudah membocorkan sesuatu yang belum final, mudah menyebar berita tanpa klarifikasi, mudah memprovokasi orang lain seakan dirinyalah yang paling benar, dan tidak mudah mengakui kekurangan diri serta kelebihan orang lain.

Menuju masyarakat yang damai, menuju Indonesia yang rukun, kita harus mengubah kebiasaan ini dengan kebiasaan yang baik. Dahulukan husnudzdzan, carilah tahu tentang aturan dan kesepakatan mainnya, dan biasakan klarifikasi dengan santun. Inilah karakter manusia beragama yang beriman. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x