Find and Follow Us

Rabu, 19 Juni 2019 | 23:53 WIB

Merasa Suci di Hari Raya

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Selasa, 11 Juni 2019 | 11:40 WIB
Merasa Suci di Hari Raya
(Foto: ilustrasi)

UCAPAN "dari hati yang bersih," "kembali suci," dan yang semakna banyak sekali bertebaran bersama ucapat selamat 'idul fitri di negeri kita. Semoga semua hati benar-benar menjadi bersih, suci dan, karenanya, bahagia dalam menjalani hidup.

Izinkan saya hari ini berbagi dawuh salah seorang ulama tentang indikator hati yang bersih, suci dan sehat yang dengan indikator itu kita bisa menilai hati kita masing-masing apakah sudah bersih dan suci setelah melewati bulan suci Ramadlan. Ulama yang saya maksud adalah Syekh Abul Qasim al-Hakim yang menyatakan bahwa ada tiga tanda utama hati yang bersih, suci dan sehat.

Pertama adalah hati yang tak menyakiti orang lain, hati yang tidak memiliki niat sekecil apapun untuk menyakiti orang lain. Biasanya, pemilik hati yang seperti ini tak pernah memiliki prasangka jelek kepada orang lain dan karenanya tak pernah berniat jelek kepada orang lain. Berhati-hatilah berprasangka, berhati-hatilah berucap dan berperilaku, jangan sampai melukai perasaan dan menyakiti hati orang lain. Hati yang terluka itu bagai piring yang pernah pecah, sulit bersambung sebagaimana sedia kala.

Kedua adalah hati yang tak pernah merasa tersakiti oleh perbuatan orang lain. Ini bermakna bahwa pemilik hati yang bersih itu senantiasa bersabar atas ucapan dan perilaku orang lain yang menyakitinya. Pemilik hati yang suci ini senantiasa rela menanghung derita ketaknyamanan yang dibuat oleh orang lain kepadanya. Semuanya dianggap biasa-biasa saja, bagai tak ada apa-apa. Damai dunia dalam pandangannya. Adakah sifat seperti ini pada diri kita?

Yang ketiga adalah bahwa jika pemilik hati yang sehat itu melakukan kebaikan, maka pantang baginya berharap balasan selain dari Tuhannya. Dia sepi dari berharap pada pujian makhluk, yang dicarinya adalah pujian dari Sang Khaliq.

Orang yang tak menyakiti orang lain itu disebut dengan pemilik sifat wara', orang yang tak pernah merasa tersakiti oleh orang lain disebut dengan pemilik sifat wafa', sementara orang yang tak pernah berharap apapun kecuali dari Allah disebut sebagai pemilik sifat ikhlas.

Apakah kita telah memiliki yiga sifat ini? Sudah layakkah kita sematkan kata HATI YANG SUCI untuk hati kita? Semoga Allah senantiasa membimbing kita. Salam, AIM, hamba yang inginkan hati yang bersih dan suci. [*]

Komentar

Embed Widget
x